Senin, 25 Mei 2026

Ego Sukuisme? Ah, Menjadi Perpaduan Itu Jauh Lebih Seru!

 

Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam rumah kita sendiri? Apalagi kalau dalam satu keluarga ada perbedaan latar belakang atau cara pandang, kadang bawaannya jadi gampang kaku karena terjebak sama ego suku atau sukuisme kecil-kecilan. Padahal, kalau kita mau buka hati sedikit aja dan merangkul perbedaan itu, rasanya bakal seru banget, lho!

Bagi aku pribadi, lahir dari perkawinan dua suku yang berbeda—Batak Toba dan Batak Karo—bukanlah sebuah kerumitan, melainkan salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Padahal kalau dipikir-pikir, walaupun sama-sama menyandang nama "Batak", Toba dan Karo itu punya dunia yang jauh berbeda, lho. Mulai dari logat bicara, karakter, marga, sampai urusan adatnya punya keunikan masing-masing yang bahkan sering kali bertolak belakang. Tapi justru lewat perpaduan inilah, aku tidak hanya mewarisi darah, tetapi juga memenangkan sebuah kombinasi karakter yang membuatku bangga jadi diri sendiri sampai sekarang.

Bayangkan saja dinamika di dalam rumah kami. Di satu sisi, ada ketangguhan, ketegasan, dan keterbukaan khas Toba yang mengalir dari Mamak. Mamak itu orangnya sangat tegas. Kalau aku membuat kesalahan, tatapan matanya yang tajam sudah cukup untuk mengintimidasi dan membuat badanku kaku seketika, sampai mulutku bisu tak bisa membela diri. Bahkan soal uang jajan pun, urusannya harus jelas: mau dipakai ke mana, jumlahnya berapa, dan untuk apa.

Salah satu momen yang paling kuingat adalah ketika aku bersikeras ingin masuk asrama. Begitu diizinkan, ternyata belum sampai dua bulan aku sudah menangis sejadi-jadinya di depan Mamak, meminta pulang dengan seribu alasan sampai air mataku habis dan mulutku lelah berbicara. Tapi tahu apa tanggapan Mamak? Beliau hanya berkata dingin, "Ayo ambil barangmu. Keluar dari asrama berarti berhenti sekolah. Kamu yang memilih tinggal di sini, maka kamu juga yang harus bertanggung jawab atas pilihanmu."

Namun di sisi lain, ketegasan Mamak itu berpadu sempurna dengan kelembutan yang berprinsip, kehati-hatian, dan rasa kekeluargaan yang erat khas Karo dari Bapak. Bapak adalah tempat pelarianku. Kalau Mamak sudah mulai memarahiku, aku akan langsung berlari berlindung di balik badan Bapak, dan Bapak pasti langsung membela kami. Begitu juga kalau uang jajan dirasa kurang; aku cukup menatap Bapak dengan wajah paling melas, dan uang jajan kami pun langsung ditambah.

Bahkan saat momen asrama itu, Bapak menunjukkan sisi lembutnya yang sangat kontras dengan Mamak. Berbeda dengan Mamak yang begitu tegar dan dingin, Bapak justru orang yang paling mudah menangis. Saat melepas aku pergi ke asrama, Bapak menangis sejadi-jadinya sambil memelukku erat karena berat melepaskan anaknya jauh dari rumah. Rumah kami akhirnya seperti panggung di mana dua jenis gondang bertalu bersama. Alih-alih saling tabrakan, perbedaan karakter yang kuat antara Toba dan Karo itu justru berpadu menjadi sebuah harmoni yang sangat unik.

Sejak kecil, berada di persimpangan dua budaya ini secara tidak langsung menempahku menjadi pribadi yang adaptif. Aku tidak dibesarkan untuk melihat dunia secara kotak-kotak. Karena terbiasa menjembatani perbedaan di dalam rumah, secara alami aku tumbuh dengan rasa solidaritas yang tinggi dan kemampuan bergaul yang luwes. Panggil aku ke lingkaran mana saja, aku akan dengan mudah melebur di sana.

Sangat disayangkan jika masih ada orang yang terjebak dalam batas-batas sukuisme yang kaku, seolah satu suku lebih unggul dari yang lain. Padahal, menjadi perpaduan itu sangat menyenangkan! Kita jadi punya ruang pandang yang lebih luas dan hati yang lebih lapang untuk menerima orang lain.

Perpaduan ini juga menumbuhkan ketangguhan dan ketegasan mental di dalam diriku. Pengaruh dari kedua suku yang sama-sama pekerja keras ini membentukku menjadi pribadi yang bermental kuat, berani menyuarakan pendapat, dan memiliki daya juang saat menghadapi tantangan. Selain itu, aku juga belajar bagaimana menyeimbangkan diri: kapan harus bersikap tegas dan blak-blakan khas gaya Toba, dan kapan harus membaca situasi dengan hati-hati serta penuh rasa hormat khas gaya Karo.

Makna terdalam dari menjadi anak blasteran ini akhirnya mengajariku bahwa darah yang mengalir di tubuhku bukan sekadar warisan biologis, melainkan sebuah simbol perdamaian. Jika di dalam diriku saja dua suku yang berbeda bisa menyatu dalam satu detak jantung yang sama, lalu mengapa kita di luar sana harus saling menjauh hanya karena perbedaan baju adat? Perbedaan di dalam rumahku tidak pernah memecah belah, justru dari sanalah aku belajar arti toleransi yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, bagi teman-teman yang juga lahir di tengah-tengah perpaduan budaya atau perbedaan apa pun di dalam keluarga, mari kita berdiri dengan tegak dan bangga. Jangan pernah merasa minder atau menganggap perbedaan itu sebagai sebuah kerumitan. Kita harus bangga dengan dua dunia yang menyatu di dalam diri kita, karena justru dari sanalah kita dibentuk menjadi pribadi yang sangat unik. Kita memiliki kapasitas hati yang lebih besar untuk memahami berbagai sudut pandang, sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Aku bangga menjadi anak blasteran Toba dan Karo. Dari perpaduan ini, aku belajar bahwa manusia tidak diciptakan untuk seragam, melainkan untuk saling melengkapi. Dan bagiku, solidaritas serta kemudahan dalam merangkul sesama bukanlah sesuatu yang harus kupelajari lewat buku—ia adalah warisan yang sudah mengalir di dalam nadiku sejak aku dilahirkan.

Sabtu, 23 Mei 2026

Prasasti Jagung di Balik Pintu

Hai teman-teman, aku ingin bercerita mengenai prasasti bercak jagung di balik pintu rumahku. Mendengarnya pasti terasa agak aneh, kan? Karena biasanya prasasti itu adalah barang antik bagi banyak orang, mungkin seperti patung, batu berukir, atau benda bersejarah lainnya. Tapi kali ini, aku akan menceritakan asal-mula prasasti yang sangat berharga bagi kami sekeluarga.

Sebagai anak kelima dari enam bersaudara, kata "sepi" tidak pernah ada dalam kamus rumah kami. Aku tumbuh di dalam rumah kecil yang selalu ramai. Bayangkan saja, dengan adanya dua kakak, dua abang, dan satu adik perempuan yang selalu menemani di rumah, suasana tidak pernah benar-benar sunyi. Bisa dikatakan aku nyaris menjadi anak bungsu. Tapi apa boleh buat, dengan kehadiran adik perempuanku, statusku bergeser menjadi anak tengah yang paling kecil.

Tapi jangan salah, kedua orang tuaku memberikan perhatian yang hampir sama besarnya kepadaku dan adik bungsuku. Terkadang aku sedikit tidak suka kalau Mamak memperlakukan kami seperti anak kembar. Mulai dari baju, sepatu, sampai ikat rambut selalu disamakan. Pernah suatu hari ketika mau berangkat ke gereja, Mamak menguncir rambutku dan rambut adikku dengan model yang persis sama. Karena merasa gengsi, jahatnya aku saat itu, aku malah menyuruh Mamak untuk mengganti model ikatan rambutku.

Meskipun dalam urusan penampilan sering disamakan, kalau dalam hal tanggung jawab pekerjaan rumah tentu saja berbeda. Sebagai yang lebih tua, tugasku adalah mencuci piring, sementara adik bungsuku kebagian tugas yang lebih ringan, yaitu menyusun piring-piring yang sudah bersih. Setiap hari suasana rumah memang selalu diwarnai campuran antara tawa keluarga dan perdebatan mengenai urusan-urusan sepele seperti itu. Keributan sudah menjadi musik dan makanan sehari-hari bagi kami.

Nah, awal mula munculnya bercak jagung di pintu rumah kami terjadi pada suatu sore setelah hujan reda. Bisa dibayangkan, dinginnya sisa hujan saat itu masih sangat terasa menembus pori-pori kulit. Apalagi kampung halamanku terletak tepat di bawah kaki gunung; kabun-kabun kelabu dan hawa dingin yang turun membuat suasana jadi berkali-kali lipat lebih menusuk. Udara sedingin itu sukses membuat perut kami semua berteriak kelaparan secara bersamaan.

Di tengah kepungan hawa dingin itulah, Mamak melangkah keluar dari dapur membawa sebuah wadah plastik besar. Di dalamnya, mengepul asap putih yang membawa aroma manis dari jagung rebus hangat yang baru saja matang. Aroma itu seolah menjadi peluit start bagi kami berenam. Kami langsung menyerbu meja makan, saling sikut untuk duduk di kursi terdekat.

Suasana meja makan mendadak riuh rendah. Suara kunyahan dan tawa bersahutan, persis seperti sedang mengikuti perlombaan mengunyah jagung. Kami makan dengan sangat lahap, menikmati kehangatan yang menjalar di dalam perut kami yang tadinya kosong. Namun, setelah semua selesai menghabiskan jatah masing-masing, mata kami serentak tertuju pada dasar wadah. Ternyata, masih tersisa satu buah jagung di sana. Kuning, gemuk, dan masih mengepulkan uap hangat.

Seketika, atmosfer di ruangan berubah total. Sisa jagung itu seperti mangsa terakhir yang dilemparkan ke tengah kandang serigala. Kami yang tadinya tertawa bersama, tiba-tiba saling lirik dengan tatapan penuh selidik.

"Ini bagianku! Tadi potongan punyaku paling kecil!" abangku memulai, tangannya sudah bergerak maju. "Enggak bisa! Aku masih lapar, Kak!" sahut abang yang satu lagi, menepis tangan pertamanya. "Aku yang paling kecil di antara abang, harusnya aku yang dapat!" aku ikut berteriak, tidak mau kalah, lalu menyusupkan tanganku di sela-sela cengkeraman mereka.

Rumah yang tadinya sudah bising menjadi makin riuh. Kami saling tarik, saling dorong, dan adu mulut tanpa ada yang mau mengalah sedikit pun. Wadah plastik itu bergeser liar di atas meja. Di tengah kegaduhan yang egois itu, adik bungsu perempuanku yang badannya paling kecil terdorong ke belakang. Ia terjepit di sudut meja, air matanya mulai luruh, lalu menangis kencang karena kalah saing dan terabaikan oleh kakak-kakaknya. Namun, karena sudah dibutakan oleh keinginan memperebutkan sebutir jagung, kami semua menutup telinga dan mengabaikan tangisannya. Kami terus ribut.

Sampai sebuah langkah kaki yang berat dan tegas terdengar berderak di atas lantai.

"Cukup!"

Satu kata itu meluncur dengan nada bariton yang sangat berat. Suara Bapak. Seketika itu juga, seperti ada remote yang memencet tombol pause, kami semua langsung terdiam dan membeku. Tangan-tangan yang tadinya saling cengkeram di atas sisa jagung langsung terlepas dan turun lemas.

Bapak sudah berdiri di ambang pintu. Aku memberanikan diri melirik wajahnya. Raut wajah Bapak memerah, napasnya terdengar berat menahan amarah yang sangat pekat. Keheningan di ruangan itu mendadak jadi begitu mencekam, hanya menyisakan suara sesenggukan adikku yang masih menangis.

Bapak melangkah maju perlahan. Langkahnya terasa begitu intimidatif. Beliau mengulurkan tangan yang legam, lalu menjangkau jagung kuning yang kami perebutkan tadi. Saat Bapak mengambilnya, aku sempat bergumam dalam hati dengan penuh harap, “Pasti Bapak mau memberikan jagung ini kepadaku atau ke adik, karena kami anak yang paling kecil.” Kami semua menunduk, menanti keputusan dari tangan Bapak.

Namun, dugaan kami salah besar. Bapak tidak memotong jagung itu, tidak pula memakannya.

Bapak memundurkan kakinya satu langkah, mengambil ancang-ancang yang kokoh, lalu dengan sentakan lengan yang penuh amarah, beliau melemparkan jagung panas itu kuat-kuat ke arah pintu depan.

Bugh!

Suara benturannya terdengar begitu keras dan solid, menggema di dalam rumah kami yang mendadak sepi. Jagung itu menghantam tepat di tengah-tengah daun pintu kayu sebelum akhirnya jatuh tercampak ke lantai.

Bisa dibayangkan, hantaman jagung panas yang lunak itu meninggalkan bekas yang mencolok. Bercak kuning basah melebar di sana, membentuk pola acak menyerupai bintang atau matahari yang tergambar jelas di atas pintu kami yang berwarna cokelat tua. Melihat kemarahan Bapak yang meledak lewat lemparan itu, aku dan adikku langsung menangis sejadi-jadinya karena ketakutan. Abang dan kakakku hanya bisa terpaku menatap lantai, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun.

Sekarang, setiap kali kami pulang kampung dan berkumpul kembali di meja makan yang sama, pandangan kami pasti akan kompak tertuju ke arah pintu depan. Memori yang dulunya terasa menakutkan dan membuat menangis, kini telah melunak seiring waktu. Cerita lemparan jagung Bapak selalu menjadi topik utama yang memicu tawa bersama hingga air mata menetes. Sebuah bercak di pintu yang tidak akan pernah kami hapus, karena dari sanalah kami selalu diingatkan untuk menurunkan ego dan selalu menjaga kerukunan persaudaraan.

Lewat kisah ini, aku belajar—dan mungkin kita semua perlu diingatkan—bahwa baik di dalam keluarga, komunitas, maupun lingkungan apa pun, hal-hal kecil seperti pembagian tugas, materi, atau perbedaan pendapat sering kali memicu gesekan. Namun, tidak ada ego pribadi yang layak ditukar dengan sebuah kebersamaan.

Kerukunan itulah prasasti yang sesungguhnya; sebuah warisan tak ternilai yang harus selalu kita jaga di mana pun kita berada. Sebab, mengalah demi kebaikan bersama bukan berarti kita kalah, melainkan cara kita menghargai ikatan yang ada. Agar saat kita melangkah jauh nanti, kita selalu tahu cara untuk kembali duduk bersama, menurunkan ego, dan saling merangkul sebagai sesama.

Rabu, 20 Mei 2026

“Saat Tangki Kendaraan Menggusur Perut dan Martabat Orang Papua”


"Kami bukan pencuri... kami menangis kepada-Mu Tuhan, kami lemah. Mengapa orang datang ke wilayah kami untuk menyiksa kami?"



Tangisan dari seorang perempuan adat Papua ini menceritakan luka mendalam di Papua Selatan. Ia menyaksikan rumah dan masa depan anak-cucunya dirusak oleh mesin-mesin besi yang besar. Ada rasa kecewa yang luar biasa; para penguasa yang harusnya mencintai rakyat justru mengirimkan alat-alat berat, dan para tentara yang harusnya melindungi mereka malah hadir seperti musuh yang mengancam kehidupan mereka. Atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN), alam Papua berubah menjadi perkebunan tebu dan sawit. Katanya, demi mengejar cadangan makanan dan energi masa depan. Namun, di lapangan, proyek ini justru memberi dampak moral yang mengerikan: terjadi persaingan sengit antara perut manusia yang lapar dengan tangki kendaraan yang haus bahan bakar. Proyek ini lupa bahwa martabat manusia jauh lebih berharga daripada kecanggihan teknologi mana pun.

Pemerintah membuat proyek bensin E10 (campuran tebu) dan biodiesel B50 (campuran sawit). Proyek teknologi ini terdengar sangat keren dan ramah lingkungan. Namun, di balik itu semua, ada kenyataan yang tidak adil: kebutuhan bahan bakar ini meningkat karena bertambahnya kekayaan orang-orang kaya di kota besar yang mengoleksi banyak kendaraan pribadi. Hidup mereka yang serba mewah membuat tangki-tangki mesin menjadi semakin haus dan membutuhkan energi yang tidak ada habisnya. Untuk memenuhi gaya hidup ini, jutaan hektar hutan perawan di Papua akhirnya dikorbankan.

Ini sangat bertentangan dengan pesan Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si' bahwa kreativitas manusia dalam menciptakan teknologi seharusnya dipakai untuk menolong dan melayani sesama, bukan malah mengorbankan manusia. Di Papua, yang terjadi justru sebaliknya. Hutan yang selama ratusan tahun menjadi "supermarket alami" tempat masyarakat adat mencari makan dan minum secara gratis, kini digusur demi kebutuhan mesin.

Di sini terjadi kontroversi dan ketimpangan yang sangat nyata: ada kelompok orang yang bisa hidup enak-enakan menikmati fasilitas teknologi dan kemudahan transportasi di kota besar, sementara di sisi lain, ada masyarakat adat yang dipaksa menjadi korban yang kehilangan segalanya. Inilah yang dimaksudkan oleh Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si', bahwa dampak buruk dari kerusakan alam dan keserakahan teknologi selalu dirasakan pertama kali oleh mereka, orang-orang yang kecil, miskin, dan lemah. Teknologi telah berubah menjadi alat penindas bagi manusia sendiri.

Dulu, masyarakat adat bisa dengan mudah menyegarkan dahaga dengan langsung meminum air sungai yang jernih dari alam tanpa perlu repot memasaknya terlebih dahulu. Tapi kini, semua itu telah berubah menjadi air yang kotor dan tidak bisa lagi langsung diminum. Mereka yang dulunya tidak perlu memasak air, sekarang terpaksa harus memasak air karena teknologi yang berkuasa di atas tanah mereka. Teknologi drone terbang itu menyemprotkan zat kimia berbahaya di atas perkebunan, sehingga cairan kimia itu mengalir meracuni sungai serta rawa tempat warga mencari minum. Hak manusia untuk menikmati air bersih yang jernih dari alam telah dirampas demi kelancaran teknologi industri.

Pemerintah juga memaksa mencetak sawah baru agar orang Papua beralih makan beras. Sehingga pohon-pohon sagu yang menjadi sumber kehidupan mereka dimusnahkan secara massal. Padahal bagi mereka, pohon sagu adalah identitas diri yang dianggap seperti orang tua sendiri. Ketika sagu dihancurkan, mereka kehilangan jati diri dan kehilangan budaya dan akhirnya kelaparan di tanah sendiri. Hal ini membuat masyarakat adat merasa dikhianati karena lambang Merah Putih gagal melindungi mereka.

Di hadapan kerusakan itu, mereka berada dalam keputusasaan karena tidak tahu lagi harus mencari perlindungan ke mana. Ketika negara yang seharusnya mengayomi ternyata tak bisa lagi melindungi, masyarakat adat akhirnya memilih berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka menangis dan membawa luka hati ini dalam doa, memohon keadilan langsung dari Sang Pencipta.

Papua bukan tanah kosong. Menggusur hutan tempat tinggal masyarakat adat demi industri bahan bakar kota adalah kesalahan moral yang besar. Seperti pesan Paus Fransiskus dalam Laudato Si', sebuah teknologi kehilangan maknanya jika ia menghancurkan martabat manusia demi kenyamanan segelintir orang kaya. Ketahanan negara yang sejati tidak akan pernah lahir dari tangisan masyarakat adat yang kelaparan, keracunan air sungai, dan terasing di tanah airnya sendiri.

Oleh karena itu, mari kita hentikan perilaku yang egois ini. Sudah saatnya kita mendesak para penguasa untuk mengembalikan esensi teknologi sebagai alat yang melayani kemanusiaan, bukan penindas martabat sesama. Mari kita bersuara dan berdiri bersama masyarakat adat Papua, menyuarakan bahwa tidak ada lagi perut yang kelaparan demi tangki kendaraan yang berjalan, dan tidak ada lagi tangisan rakyat kecil yang diabaikan atas nama kemajuan dunia.

Rabu, 01 April 2026

“Sejarah Kongregasi SFD”

 

“Sejarah Kongregasi SFD”

            Pendiri kongregasi Suster-Suster Fransikanes Dongen adalah Muder Konstansia van der Linden. Pada awalnya Muder Konstansia adalah suster Penitenten Recollectin. Muder Yohana Yesus adalah pendiri biara Penitenten Recollectin. Setelah Yohana Yesus wafat pada tanggal 26 Agustus 1648 situasi politik pada saat itu mengalami perubahan besar. Pemerintah berbagai negara Eropa mengambil Tindakan menentang biara-biara. Sebagian karena minat terhadap kekayaan yang sudah dihimpun beberapa komunitas biara tetapi ada juga karena keprihatinan untuk semacam pemurnian kehidupan membiara itu sendiri. Cara hidup beberapa kelompok biarawan biarawati mengundang pertentangan dari pihak warga. Pada umumnya rakyat mempersalahkan para biarawan biarawati karena mereka tidak berbuat apa apa, memiliki kekayaan luar biasa, dan merepotkan warga dengan mengemis.

            Untuk wilayah selatan Nederland, kaisar Maria Theresia ( 1740-1780 ) ia mengikat milik biara biara, menaikkan usia orang yang boleh mengucapkan kaul, menghapus mas kawin, penerimaan hadiah dan hibah bagi biarawati.

            Pada tahun 1783 Kaisar Yosef II mengumumkan bahwa semua biara yang tidak bermanfaat dibubarkan. Hanya ordo dan kongregasi yang bermanfaat bagi masyarakat yang tidak dibubarkan karena memberikan pengajaran, perawatan orang sakit dan pengayoman orang miskin yang terus ada. “Siapa yang tidak melayani sesama tidak melayani Allah” begitu pendapat Yosef II. Pada saat itu, semua harta milik disita, gedung gedung dikosongkan, biarawan biarawati diusir dan Kembali ke tanah kelahiran mereka.

            Waktu Revolusi Prancis biara di Leuven dibubarkan dan para religius dipaksa untuk mengosongkannya. Biara yang sama nasibnya dengan mereka itu ialah biara Pater Kapusin dan biara para suster St. Victor ( Witte Vrouwen ). Dikemudian hari penyelenggaraan Ilahi mempergunakan orang orang dari ketiga komunitas yang dibubarkan ini untuk memindahkan Revormasi Limburg ke tanah Belanda. Sr Maria Konstansia van der Liden dan Sr Maria Angelina Kerkhof membuat rencana untuk mendirikan biara baru ditanah orang asing. Dan Pater Linus diminta oleh Minister Provinsi untuk memperhatikan nasib para suster yang telah diusir itu. Pater Linus menemukan tempat yang aman bagi kedua suster tersebut di Bokhoven.

            Ditahun 1798 kedua suster berangkat untuk perjalananya yang berbahaya itu, setelah mengalami berbagai kesusahan tibalah mereka di Bokhoven dan mereka disambut dengan hangat oleh pastor setempat yaitu Tuan de Bruijen. Tetapi karena  tiada prospek disana untuk mendirikan biara, mereka memutuskan untuk mendirikan biara di Besoyen. Disini bergabunglah suster dari Leuven yakni Sr Francoise Timmemans dri biara para perempuan putih dan Sr Coleta Koopmans dari peniten recolek. Pada tahun 1800 mereka pindah ke Waalwijk karena mereka diberi rumah lebih baik. Komunitas kecil ini mendapat tambahan anggota yakni Sr Teresia Brockaers, seorang suster Peniten recolek dari biara di Maastricht dan Sr Emanuel  Servaes yang Ketika biara di Leuven dibubarkan masih novis disana.

 Setelah itu, para suster membuka suatu sekolah yang dengan cepat mendapat banyak murid. Keinginan mereka yang paling besar ialah mendirikan komunitas kebiaraan yang teratur dan juga mendirikan asrama,dimana mereka dapat membaktikan diri kepada Pendidikan kaum muda.Tetapi mereka miskin dan tidak memiliki dana dengan penuh kepercayaan,mereka mulai berdoa dan permohonannya di kabulkan berkat penentuan Penyelengaraan Ilahi yang menakjubkan,maka pada tahun 1801 mereka mendapatkan rumah yang cukup besar dan cocok sekali di jadikan untuk asrama di Dongen.Tuan Adrianus Oomen wali vikariat Breda menjadi pemimpin rohani tarekat mereka.Komunitas terdiri enamanggota:Sr.Konstansia,Sr.Coleta,Sr.Francoise,Sr.Teresia, Sr.Emanuel(novis),Sr.Yosef(novis).Dengan demikian telah di dirikan biara suster peniten rekolek dari reformasi limburg yang pertama di Belanda.

Pada saat itu biara dan pensionat masih Bersatu sehingga para suster tidak menerima pensionat lebih dari jumlah yang dapat makan Bersama satu meja yang berisi 10 orang. Namun Van Gils dan Oomen berkata bahwa kehidupan membiara harus diperhatikan tetapi hal hal tambahan pun harus diperhatikan karena kebutuhan yang baru yang tidak ada dalam Kostitusi asli. Para suster telah akrab dengan doa doa malam, puasa dan mendera tubuh mereka karena karakter Ordo Kontemplatif yg melekat dalam diri mereka. Tetapi desakan Van Gils kepada Oomen tidak dapat ditolak lagi maka mereka tunduk, taat secara tulus walaupun hati mereka terbelah.

Presiden Van Gils mengakui bahwa pendirian baru ini merupakan dukungan kuat bagi emansipasi Wanita Katolik. Bila Wanita terbentuk maka prianya juga akan mengikuti. Oleh karenanya Dongen harus ikut peduli dengan mengorbankan karakter Ordo sendiri. Mengenai kerasnya peraturan Konstitusi Kerasulan membuat para suster mulai melemah dalam Kesehatan dengan beratnya pekerjaan dan kelelahan sehingga Sebagian besar peraturan harus diganti. Tuhan pada jaman ini tidak menuntut kekerasan para suster tetapi agar lebih menyesuaikan dengan kebutuhan mendesak dan kebutuhan kristiani yaitu bahwa mereka harus lebih memberikan perhatian kepada sesama.itu tidak mengurangi usaha pada kesempurnaan pribadi Allah ingin agar para religious membaharui semangat kemiskinan seperti umat Kristen pertama miskin dan rendah hati.seperti para rasul harus bekerja mencari nafkah.kasih antar sesame dan hidup dalam kebersamaan terbina hingga dalam karya orang dapat bekerjasama dan merasa saling membutuhkan.kemudian dengan situasi yang sekarang di alami bapa pembimbing menetapkan puasa dalam peraturan dan konstitusi di ringankan sehingga semua yang harus mengajar dan belajar juga yang harus bekerja keras setiap pagi di wajibkan sarapan.bapa pemimpin lebih kuat menganjurkan meditasi karena merupakan pengasah rohani membersihkan kotoran atau karat jiwa bahkan juga mengatur  tubuh.

SUSTER suster dongen pertama berkembang dengan terpuji dan mereka dengan rendah hati taat kepada pembimbing yang pada waktu itu di berikan Allah,berkat dariAllah.berkat itu berupa Pengorbanan.pada tgl 10 Maret 1803 seorang gadis pensionat berusia 13 thn,Bernama Barbara van Gatenhove meninggal dunia.pada tgl 19 April seorang putri berusia 20 thn dari waalwijk menerima busana biara dengan nama Sr.Victoire.pada tgl 21 April 1803 pegawai kehakiman dan kotapraraja mengabulkan permohonan Muder Constansia Van der linden.sehingga para ibu guru dan pensioner bebas dari pendudukan militer.juga bebas dan tanpa halangan boleh mengelola sekolah dan dengan demikian mereka mengajar dan mendidik sesuai dengan tuntutan.

Hari Kaul Pertama di Biara Dongen pada tanggal 17 Desember 1802 dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan dan bergembira Bersama. Setelah tanggal 17 Desember 1802 Direktur Adrianus Oomen mengangkat Suster Konstansia  menjadi pimpinan sebab dialah yang tertua dan kepadanya anggota lainnya sudah taat sejak dahulu. Sebagai asisten diangkat Sr. Coleta. Sr. Francoise meninggal di Dongen berusia 72 tahnu pada tahun 1820.

             Pada tanggal 4 Oktober 1814 meninggalnya Muder Konstansia. Sr.Agustina menggantikkannya dan Sr.Yosef menjadi vikaris dua tahun kemudian meninggallah pemimpin rohani  biara Dongen yaitu Tuan Oomen beliau di ganti oleh Tuan Van Hooijdonk yang tahun 1853 di angkat menjadi uskup pertama keuskupan Breda. Perhimpunan mereka ini disebut dengan ibu ibu guru Dongen atau kongregasi secular dengan kaul sederhana. Tahun 1816 kongregasi ini diakui oleh Van Gils sebagai biara. Pada tanggal 21 April 1803 Muder Konstansia mndesak pemerintah Kotapraja untuk memberikan bantuan namun hal itu diperhatikan setelah Muder Konstansia meninggal. Pada 14 Desember 1814 Sr Agustine dan sesame susternya menandatangani akta. Kepemimpina Muder Agustine mulai 4 Oktober 1814 sampai Mei 1840.

 Ketika Muder Agustine sakit ia menyerahkan kepemimpinannya kepada Sr Aldegondis Smits. Kepemimpinannya mulai 18 Oktober sampai 14 Juni 1851. Pada kepemipinanya adanya rumasan pengikraran yang baru dan pada Mei 1839 sekolah untuk anak anak miskin mulai dikembangkan. Pada tanggal 20 Mei 1851 Mgr.Van Hooydonk mengesahkan rancangan statuta untuk Pensionat. Pada tanggal 14 Juni 1851 Mere Aldegondis meninggal dunia. Dalam kepemimpinanya yang pendek tidak ada karya besar yang ia lakukan tetapi ia melaksanakan tugasnya dengan mengembangkan tradisi lama.

Setelah Meninggalnya Mere Aldegondis maka kepemimpinannya digantikan oleh Mere Therese Bosmans mulai tanggal 20 Juli 1851 sampai 23 November 1882. Sebelum menjadi pemimipin ia menjadi Pemimpin Novis. Pada kepemimpinanya ini berlakulah Yayasan yang didirikan di Dongen sebagai badan dibawah semboyan. Perhimpunan Pendidikan dan pengajaran dan dengan demikian memiliki Badan Hukum Sipil. Pada tanggal 8 September berangkatlah para suster dari Dongen ke Oosterhout. Tanggal 9 September biara Keluarga Kudus dibuka. Bulan Oktober 1857 biara baru sudah dapat ditempati dalam bulan November sekolah dibuka. Pada saat kepemimpinan Mere Therese Walikota Dongen memberitahu bahwa di sini tidak ada Perhimpuna Rohani melainkan hanya sebuah pensionat untuk guru guru dan puteri muda sehingga membuat para suster merasakan ada kesedihan dan keputusasaan dan merasa ada tekanan dan hal ini sangat berpengaruh buruk terhadap kehidupan biara. Pada tahun 1860 orang orang mulai memberikan perhatian pada biara biara. Pada kepemimpinanya ia berpegang teguh pada karakternya yang tertutup terhadap Peniten Rekolek tua. Keunggulan Mere Therese dan dewannya terletak pada bangunan  kapel baru.Mere Therese sulit melepakskan kepemimpinanaya atas pensionet serta urusan duniawi yang penting dari kongregasi oleh sebab itu para suster yang lain mengharapkan agar Mere Therese  dapat memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohani para suster para suster dan dewan penasihatnya mengatakan Mere Therese terlalu banyak  mengadakan penghematan.Ia juga memeiliki karakter yang sulit untuk bekerja sama Ia sering menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan menanggung akibatnya sendiri Ia memiliki kemanusiaan sendiri meski ia seorang religius dan pimpinan yang begitu keras terhadap diri sendiri dalam mengayati kemiskinan bagi diri sendiri maka hal ini menimpa orang lain juga namun dibalik semua kekurangannya itu Ia memiliki pengorbanan yang besar .Mere Therese meninggal karena pengapuran pada tgl 23 November 1882 dalam usia 72 thn.selama 31 thn Ia mengemban tugas sebagai pemimpin 8 rumah cabang di dirikannya.pada awal kepemimpinanya Suster hanya 30 orang pada waktu ia meninggal ada 100 orang Suster sebagai anggota kongregasi.pensionat mengalami perubahan besar,pengajaran mengalami peningkatan dan kompleks bangunan di perluas.

Sejak 30 Juli 1868 SR Bonaventura Van Dijk mendampingi Mere Therese untuk mendampingi kongregasi Ia telah berfungsi sebagai pemimpin umum sejak 27 januari 1883-2 Sep1883.dalam kepemimpinanaya Ia berbicara mengenai tujuan pengajaran,mengenai pentingnya semangat pengorbanan dan sarana sarana untuk memudahkan,menyenangkan dan berguna bagi pelayanan.Ia menunjukkan ciri khas atas keahliannya dalam pedagogi atas pengajarannya pada para susternya.pada tgl 2 Sep Ia mengundurkan diri sebagai pemimpin .pada tgl 5 Sep Ia berangkat ke rumah yatim piatu di Steenbergen sebagi pimpinan. Ia meninggal pada usia 67 thn.

Pada tanggal 5 Sep 1883 sampai 30 Agustus 1902  Mere Odille Claessen menjadi pemimpin umum, pada masa ini mereka juga memperingati 100 thn perhimpunan  dengan meriah pada masa kepemimpinananya Ia mendirikan satu rumah cabang besar di Amsterdam,ketenaran tertinggi ialah dengan mendirikan sekolah guru santo Antonius.

Pada tanggal 30 agustus1902 Mere Jeanne Willems mengatakan walaupun sudah berusia 66 tahun ia siap memimpin kongregasi.Pada masa kepemimpinannya perkembangan jumlah religius dalam tahun 1907 menuntut adanya penyesuain edisi baru dari peraturan dan konstitusi.Mgr.P.Leitjen memberikan pengesahan pada tanggal 1 november 1907 dan memberikan semangat kepada religius untuk melaksanakan dengan cermat konstitusi yang telah diubah.Kekuatannya yang melemah memengaruhi kemampuannya sehingga pada tanggal 1 september 1909 ia memohon pemberhentian dari tugasnya.Ia meninggal di Dongen pada tanggal 15 desember 1915.

            Kepemimpinan Mere Jeanne digantikan oleh Mere Bertille van Helvoort yang berusia 52 tahun mulai 1 September 1909 sampai 17 Agustus 1929.Dekret 12 Januari 1923 bagi Kongregasi Dongen akan diakui sebagai satu keluarga Religius diosesan dengan nama haru Peniten Rekolektin dari Ordo Ketiga Santo Fransiskus Asisi. Konstitusi yang seluruhnya diubah diberi pengesahan oleh pimpinan rohani pada Pesta Santa Clara 1925. Sejak 14 september 1920 telah mendapat tawaran untuk pengiriman beberapa suster misionaris dalam wilayah misi saudara dina kapusin medan, Sumatera. Sehingga ditetapkan bahwa keberangkatan para suster pada tanggal 17 Maret 1923. Pada tanggal 17 Agustus 1929 ia turun dari kursi kepemimpinannya. Pada masa kepemimpinannya jumlah anggota 400 orang, dan 14 rumah cabang dan satu stasi misi karya. Ia meninggal pada tanggal 2 Desember 1935 pada usia 78 tahun.

            Mulai 17 agustus 1929 Mere Isabella Laane menerima tugas sebagai Pemimpin umum. Pada masa kepemimpinannya hal yang berkembang dalam perhimpuna adalah pengajaran dan Pendidikan, berkarya ditanah misi, dan juga di kongregasi Dongen ada perawatan orang sakit. Juga adanya tempat yang nyaman untuk para suster yang sepuh dan sakit.

KARYA MISI

            Perhimpunan Peniten Rekolektin dari Roosendal dari Mere Marie Joseph pada tahun 1841 membentangkan hati dan tangan untuk menyeberang lautan menuju Curacao dan mereka merupakan anggota biara Wanita yang pertama Nederland yang berkarya di tanah misi. Para Suster Peniten rekolek diharapkan untuk bekerja di wilayah Misi Kapusin di Sumatera dan diterima oleh Pater matthiah de Wolf OFM Cap. Pada tanggal 1 April 1923 beberapa suster misionaris akan menyeberangi lautan. Pada tanggal 17 Maret 1923 berangkatlah enam suster misionaris Dongen ke Misi Sumatera. Antara lain adalah : Suater Edmunda Mulder dari Amsterdam, Suster Hildegardis de Wit dari Amsterdam, Suster Salesia Hazelzet dari Amsterdam, Suster Pudentiana Cuelenaere dari Aadenburg, Suster Laurentine Pijnenburg dari Alphen, Suster Leo Pelkmans dari Teteringen. 

            Para suster misionaris tiba di Medan pada tanggal 17 April dan tinggal sementara disebuah rumah milik keluarga Cina di seberang gereja. Pada tanggal 2 Juli 1923 sekolah dibuka. Kemudian didirikan jugalah sekolah di Tanjung Balai yang dibuka pada tahun 1926. Sehingga pada tanggal 11 Oktober 1924 Mere Bertille dan dewannya siap untuk mengirim para suster lagi. Pada bulan Juli tahun 1924 Sr Hildegardis mengajar Katekismus kepada 20 anak laki laki dan perempuan. Pada tanggal 17 Desember Sr Rudolphine van den Brand ditunjuk sebagai misionaris. Pada tanggal 8 April ia tiba di Medan dengan sesame susternya yaitu Sr Anselma Oprins dan Sr Alphonsine Swagemakers. Para Misionaris baru menghadiri perletakan batu pertama rumah suster dan asrama pada tanggal 17 Mei 1925. Pada tanggal 2 januari pembukaan resmi dan tanggal 3 januari 1926 dilangsungkan pemberkatan meriah. Pada 21 April 1926 tiga Misionaris tiba di Medan yaitu Sr Eligia de Wolf, Sr Ursula van Dun, kemudian diikuti segerombolan misionaris pada tanggal 26 September yaitu Sr Henriette Laane, Sr Jeanne van Happeren, Sr Willibrorde Huyben dan Sr Theobalda Oprins. Juga Mere Bertille mengirim Vikarisnya Mere Theresia Ruygrok sebagai utusan untuk mengadakan visitasi. Pada tanggal 30 Oktober 1926 Sr Henriette, Sr Ursulan dan Sr Willibrorde harus meninggalkan tempat kerjanya untuk memenuhi permintaan Pastor Marinus Spanjer untuk membuka sekolah Holland Cina di Tnjung Balai. Pada tanggal 5 januari 1928 Sr Josephine Ghuys dan Sr emilia van Dongen sampai di Medan untu membantu misi. Pada saat itu Sr Theobalda meninggal. Ia tiba di sumatera pada tanggal 28 September 1926 dan meninggal pada tanggal 25 April 1929. Pada awal tahu 1930 Mere Isabella Bersama anggota dewan, Sr Dominika Franken mengadakan visitasi ke Indonesia dan membwa suster tenaga baru. Tanggal 5 mei 1932 datang jugalah para suster tenaga baru. Tahun 1936 Mere Isabella mengadakan visitasi untuk kedua kalinya. Juga ia berterima kasih atas karya mereka  di Misi Padang yang sejak 21 Juli 1932 sudah menjadi Vikariat Apostolik.

            Atas desakan dari Vikarias apostolik Kalimantan Nederland, Mgr T van Valenberg OFM Cap, para suster Peniten Rekolektin Dongen menerima stasi Misi di Banjarmasin pada musim rontok 1937. Pada bulan April  dan September 1973 enam suster sampai di stasi Banjarmasin yaiyu Sr Theobalda van Gool, Sr Richarde Kanters, Sr lamberta Beerens, Sr Lucretia Sinack,  Sr Clementia Geerden dan Sr Josephine Jacoba. Pada bulan Januari 1940 masih ada dua suster dating lagi yaitu Sr Hedwigis Dinnewet dan sr Maria Petra Brouwers. Di Banjarmasin ada 7 suster misionaris dan di Medan ada 26 suser misionaris.

            Keutamaan keutamaan yang merupakan  penopang hidup mereka adalah  KEMURNIAN HATI,KEMISKINAN DI HADAPAN ALLAH,CINTA KASIH SATU SAMA LAIN DAN MATIRAGA.

Referensi :

-          Buku Sebuah Harta Tersembunyi

-          Buku SKPRD

-          Buku Muder Yohana Yesus

Minggu, 30 November 2025

BPJS  KETENAGAKERJAAAN MEMBANGUN EKOSISTEM KERJA YANG BERKEADILAN MELALUI INVESTASI PERLINDUNGAN BAGI PARA PEKERJA

Oleh : Duma Magdalena Turnip

Dalam perubahan dunia kerja yang signifikan saat ini, yang didominasi oleh digitalisasi,layanan keuangan modern, dan tututan produktivitas, kebutuhan perludungan untuk tenaga kerja menjadi kebutuhan yang mendasar saat ini. Program jaminan sosial bagi para tenaga kerja bukan sekedar fasilitas tambahan, tetapi sebagai investasi yang memastikan para tenaga kerja dapat menjalankan tugasnya secara aman, produktif dan tetap terlindungi.

            Hal ini sejalan dengan citra masa depan dunia kerja yang lebih manusiawi, inklusif, dan berkeadilan, dimana kesejahteraan sumber daya manusia menjadi prioritas utama. Salah satu bentuk perlindungan tersebut hadir melalui BPJS Ketenagakerjaan yang memberi program jaminan sosial bagi para tenaga kerja dan berperan penting dalam menjaga keamanan dan kenyamanan pekerja dari berbagai resiko pekerja maupun keberlangsungan hidup di hari tua.

            Pengalaman aman dalam dunia pekerjaan dengan menggunakan BPJS Ketenagakerjaan ini sudah dialami oleh banyak orang, secara khusus oleh Ondos PM   Manurung yang bekerja sebagai pegawai di PT  DJABESDEPO FORTUNA RAYA MEDAN  cabang Pematangsiantar   dan Marcopolo Manurung yang bekerja di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero tbk) cabang Lubuk Pakam

            Ondos Manurung  mengawali Kesan baiknya dalam menggunakan BPJS Ketenagakerjaan ini dengan sangat ramah. “Saya sudah bekerja sejak tahun 2018- sekarang, dan ketika ditawarkan untuk menggunakan BPJS Ketenagakerjaan ini saya mulai melihat dan mencari informasi apa yang menjadi kegunaanya, dan setelah saya mengetahuinya bahwasanya ini menjadi investasi bagi keberlangsungan hidup saya dalam dunia pekerjaan sekaligus dapat menjamin keamanan dan kenyamanan dalam dunia pekerjaan saya ” dia melanjutkan ceritanya dengan menuturkan rasa kekhawatiran apabila mengalami kecelakaan dalam bekerja. “Memang  tidak ada yang menginginkan kecelakaan dalam bekerja, namun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, dan sampai sekarang ini saya memang belum pernah mengalami hal demikian, namun dengan BPJS Ketenagakerjaan ini menjadi jaminan bagi saya sehingga saya lebih merasa tenang.” Ondos juga menuturkan kesannya bahwa dengan adanya BPJS ketenagakerjaan ini. “Saya tidak takut apabila sudah pensiun dari tempat saya  bekerja dan apabila terPHK, apalagi sekarang ini ada beberapa perusahaan yg saya dengar tidak adanya kompensasi dalam pekerjaan saat kita terphk atau pensiunan bahkan saat kecelakaan kerja ada beberapa perusahaan juga yg  kurang mempedulikan  dan merasa tidak wajib memberi kompensasi. Hal itulah yg membuat saya merasa nyaman dengan adanya BPJSTK.”

            Hal yang sama diungkapkan oleh Marcopolo Manurung yag bekerja di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero tbk). “Bekerja di perbankan tidak selalu mudah seperti yang kita bayangkan. Ada berbagai macam resiko juga , mulai dari tekanan pekerjaan, mobilitas tinggi, sampai ancaman keselamatan yang kadang tidak kita duga,” Ujarnya. “Dengan BPJS Ketenagakerjaan, saya merasa jauh lebih aman. Ada jaminan kalua terjadi hal-hal diluar kendali.”  Marcopolo mengaku bahwa pada tahun lalu ia pernah mengalami cedera ringan ketika jatuh saat dinas luar kantor. Proses penanganan medisnya sepenuhnya ditanggung melalui Jaminan Kecelakaan Kerja(JKK). “Biayanya langsung ditangani. Saya tidak perlu khawatir soal pengeluaran. Fokus saya hanya pemulihan dan Kembali bekerja,” tuturnya. Selain manfaat JKK, marcopolo juga menyoroti pentingnya Jaminan Hari Tua. “sebagai pegawai, saya harus memikirkan masa depan di hari tua. Jaminan hari tua membuat saya merasa punya Tabungan yang pasti, dan tentunya memberi rasa aman bagi saya,” katanya.      

Ondos Manurung dan Marcopolo Manurung berpendapat bahwa pekerja yang merasa aman secara sosial dan finansial akan bekerja lebih produktif. “Ketika kita tahu ada perlindungan, kita bisa fokus pada pekerjaan. Rasanya lebih ringan dan percaya diri,” tambahnya.

        Tempat mereka bekerja juga aktif mendorong para pegawai untuk memahami apa yang menjadi manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan ini, sehingga mendorong para pegawai untuk menggunakannya karena memang  BPJS Ketenagakerjaan ini merupakan investasi bagi yang menggunakannya sekaligus jaminan Kesehatan dan janiman di hari tua.

            Pengalaman Ondos Manurung dan Marcopolo Manurung ini mencerminkan perlindungan yang memastikan keamanan,kesejahteraan, dan ketenangan dalam  dunia pekerjaan. Investasi melalui jaminan sosial bukan hanya menguntungkan pekerja, tetapi juga Perusahaan dan negara. Pekerja yang terlindungi adalah kunci untuk membangun generari bangsa yang dapat bekerja lebih produktif dan Tangguh.

            Melalui perlindungan yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan, masa depan dunia kerja yang berkeaddilan, inklusif, dan berperikemanusiaan bukan sekedar harapan, tetapi cita-cita yang sedang dibangun hari demi hari dan untuk kesejahteraan bersama.

Senin, 08 September 2025

Sukacita Panggilan Religius

 

Aku sering bertanya pada diriku ke mana aku akan pergi ? Pergi mencari sesuatu yang memberi kebahagiaan didalam panggilan ini. Pertanyaan itu bukan hanya tentang arah, tetapi tentang kesetiaan pada panggilan yang kujalani saat ini. Kadang aku membayangkan kebahagiaan ada di suatu tempat yang lebih tenang, di hari-hari tanpa konflik, atau di karya pelayanan dan komunitas yang selalu penuh sukacita. Namun, semakin aku aku mencari semakin aku tak mendapatkan kebahagiaan itu. Dalam keheningan aku tersadar bahwa panggilan ini mengajarkanku tentang hidup yang tidak selalu mulus. Ada hari di mana perbedaan pendapat menguji kesabaran, ada tugas yang menuntut tenaga lebih dari yang kupikir mampu, ada pelayanan yang tidak selalu dihargai.

 Di sinilah aku berjuang secara kontekstual menghadapi realitas apa adanya, bukan menunggu dunia menjadi sempurna. Hadir dan ada dalam realitas kehidupan saat ini. Bukan hidup dalam pikiran dan harapan yang semu. Kontekstual berarti saya bergabung dan menyesuaikan diri dengan kenyataan saat ini. Harapan dan pengalaman masa lalu bukan menjadi penghalang dalam panggilan. Perjuangan ini justru menjadi ruang di mana Tuhan menumbuhkan kesetiaanku. Kebahagiaan ternyata tidak datang ketika semua masalah selesai,tetapi saat aku mampu hadir penuh dalam momen sekarang, mengizinkan rahmat-Nya mengalir di tengah kekurangan.

Panggilan ini bukan tentang mencari tempat yang lebih mudah, tetapi tentang menemukan Tuhan di tempat aku diutus. Bukan tentang menghindar dari tantangan, tetapi membiarkan kasih-Nya memampukanku menghadapinya. Pekerjaan sederhana pun akan sangat berharga dihadapan Tuhan jika aku sungguh sungguh mempersembahkannya pada Tuhan. Maka pertanyaanku berubah bukan lagi “Ke mana aku akan pergi?” tetapi “Bagaimana aku akan setia di sini, dalam perjuangan ini?” Karena saat aku berjalan bersama Dia, bahkan di tengah tantangan paling nyata, aku tahu inilah kebahagiaan yang kucari sejak awal panggilan.

Laudato Si

Paritisipasi Menuju Kolaborasi

            Ensiklik bapa Suci Paus Fransiskus yang berjudul “Laudato Si” menjadi salah satu dokumen yang menjawab perhatian global saat ini. Di era modern ini, jeritan alam semesta akibat kerusakan yang telah ditimpakan manusia semakin menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hal ini menjadi luka kita bersama dan sangat berdampak pada keberlangsungan hidup manusia serta ciptaan lainnya terutama kaum miskin yang sering terabaikan. Melalui ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus mengajak seluruh kaum beriman agar menjadi saksi pengharapan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, komunitas kristiani, gereja dan masyarakat.

            Komunitas Religius menjadi salah satu saksi harapan bagi gereja dan masyarakat. Komunitas religius memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga lingkungan hidup sebagai bentuk rasa syukur pada Sang Pencipta. Banyak upaya yang sudah dilakukan untuk menjaga kelestarian alam sekitar biara. Pertama, audit sampah. Setiap anggota komunitas mengevaluasi sampah yang dihasilkan. Melalui audit ini, diharapkan agar setiap anggota komunitas berusaha mengurangi sampah yang dihasilkan. Seperti contoh membawa tas saat berbelanja dan membawa botol minum saat berpergian. Upaya ini dapat mengurangi penggunakan plastik dan botol atau cup minuman. Kedua, penggunaan barang bekas. Barang yang masih layak digunakan kembali tidak langsung dibuang tetapi dimanfaatkan. Seperti plastik yang digunakan saat berbelanja ke pasar, dicuci dan dikeringkan sehingga bisa dipakai kembali untuk menyimpan ikan dan sayuran di kulkas. Ketiga, daur ulang bahan organik. Sampah dapur seperti sisa makanan dapat diberikan kepada anjing, ikan dan hewan ternak lainnya. Sisa kulit buah dapat diolah menjadi lindih untuk menyuburkan tanaman dan eco enzim yang memiliki seribu manfaat. Keempat, penghematan sumber daya. Menumbuhkan rasa solidaritas bagi generasi yang mendatang. Hal ini dilakukan dengan menggunakan listrik seperlunya, jika cahaya matahari cukup untuk menerangi ruangan maka lampu tidak perlu dinyalakan. Juga penggunaan air yang secukupnya untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

            Upaya – upaya ini sangat berpengaruh bagi kelestarian alam semesta. Partisispasi sekecil apapun sangat bermanfaat.Mungkin usaha yang kita lakukan tidak secara langsung memperlihatkan hasil yang besar tetapi usaha itu tidak menambah kerusakan bumi. Banyak biara biara yang sudah merealisasikan upaya upaya yang baik bagi kelestarian alam. Bahkan banyak biarawan biarawati menjadi tokoh ekologi di lingkungan gereja maupun masyarakat. Sebagai orang beriman, hal ini patut kita syukuri. Sebagai gereja kita sudah berupaya menunjukkan partisipasi kita dalam melestarikan alam semesta. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan ada banyak tantangan yang dihadapi dalam menjaga lingkungan di biara. Pertama, kebutuhan manusia yang semakin besar. Seiring dengan aktivitas harian, konsumsi barang dan produksi terus meningkat, menyulitkan upaya pengelolaan limbah yang efektif. Kebutuhan anggota komunitas seperti bahan makanan, peralatan mandi, perabotan rumah tangga dll, hampir seluruhnya menghasilkan limbah seperti makanan berbungkus plastik dan peralatan mandi yang berbotol. Peningkatan produktivitas di dunia ini seakan akan menjadi kebutuhan utama manusia sehingga budaya hedonisme semakin meningkat. Tantangan kedua, kurangnya konsistensi secara individu maupun komunal. Terkadang semangat untuk menjaga lingkungan hanya muncul diawal, tetapi sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, diharapkan agar setiap anggota komunitas biara memiliki kesadaran dan keterlibatan aktif, setiap anggota komunitas dapat berkontribusi dalam membangun biara yang ramah lingkungan. Ini bukan hanya tugas mereka yang diberi tanggung jawab di bidang ekologi oleh kongregasi melainkan tugas setiap anggota komunitas. Partisipasi sekecil apapun memiliki peran yang sangat penting. Ketika semakin banyak individu terlibat dalam upaya menjaga lingkungan, semangat ini akan dan menciptakan gerakan bersama. Dari sinilah partisipasi akan menuju kekolaborasi. Kolaborasi dalam menjaga lingkungan hidup tidak dapat teraktualisasikan jika tanpa partisipasi setiap individu. Kolaborasi ini bukan hanya mengatasi kerusakan lingkungan hidup tetapi juga mempererat persaudaraan antar anggota komunitas. Dengan semangat partisipasi dan kolaborasi, komunitas religius dapat menjadi contoh nyata dalam pelestarian lingkungan. Dengan berkontribusi dalam hal hal sederhana , kita turut serta dalam membangun ekosistem yang lebih sehat dan harmonis. Kolaborasi yang terbentuk dari partisipasi setiap individu akan membawa perubahan yang lebih besar tidak hanya bagi biara tetapi juga bagi alam semesta. Mari kita mulai lagi, karena sampai saat ini kita belum berbuat apa apa.

Salam Laudato Si.

      


Ego Sukuisme? Ah, Menjadi Perpaduan Itu Jauh Lebih Seru!

  Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam rumah ki...