Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian
ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam
rumah kita sendiri? Apalagi kalau dalam satu keluarga ada perbedaan latar
belakang atau cara pandang, kadang bawaannya jadi gampang kaku karena terjebak
sama ego suku atau sukuisme kecil-kecilan. Padahal, kalau kita mau buka hati
sedikit aja dan merangkul perbedaan itu, rasanya bakal seru banget, lho!
Bagi aku pribadi, lahir dari perkawinan dua suku
yang berbeda—Batak Toba dan Batak Karo—bukanlah sebuah kerumitan, melainkan
salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Padahal kalau dipikir-pikir, walaupun
sama-sama menyandang nama "Batak", Toba dan Karo itu punya dunia yang
jauh berbeda, lho. Mulai dari logat bicara, karakter, marga, sampai urusan
adatnya punya keunikan masing-masing yang bahkan sering kali bertolak belakang.
Tapi justru lewat perpaduan inilah, aku tidak hanya mewarisi darah, tetapi juga
memenangkan sebuah kombinasi karakter yang membuatku bangga jadi diri sendiri
sampai sekarang.
Bayangkan saja dinamika di dalam rumah kami. Di
satu sisi, ada ketangguhan, ketegasan, dan keterbukaan khas Toba yang mengalir
dari Mamak. Mamak itu orangnya sangat tegas. Kalau aku membuat kesalahan,
tatapan matanya yang tajam sudah cukup untuk mengintimidasi dan membuat badanku
kaku seketika, sampai mulutku bisu tak bisa membela diri. Bahkan soal uang
jajan pun, urusannya harus jelas: mau dipakai ke mana, jumlahnya berapa, dan
untuk apa.
Salah satu momen yang paling kuingat adalah ketika
aku bersikeras ingin masuk asrama. Begitu diizinkan, ternyata belum sampai dua
bulan aku sudah menangis sejadi-jadinya di depan Mamak, meminta pulang dengan
seribu alasan sampai air mataku habis dan mulutku lelah berbicara. Tapi tahu
apa tanggapan Mamak? Beliau hanya berkata dingin, "Ayo ambil barangmu.
Keluar dari asrama berarti berhenti sekolah. Kamu yang memilih tinggal di sini,
maka kamu juga yang harus bertanggung jawab atas pilihanmu."
Namun di sisi lain, ketegasan Mamak itu berpadu
sempurna dengan kelembutan yang berprinsip, kehati-hatian, dan rasa
kekeluargaan yang erat khas Karo dari Bapak. Bapak adalah tempat pelarianku.
Kalau Mamak sudah mulai memarahiku, aku akan langsung berlari berlindung di
balik badan Bapak, dan Bapak pasti langsung membela kami. Begitu juga kalau
uang jajan dirasa kurang; aku cukup menatap Bapak dengan wajah paling melas,
dan uang jajan kami pun langsung ditambah.
Bahkan saat momen asrama itu, Bapak menunjukkan sisi
lembutnya yang sangat kontras dengan Mamak. Berbeda dengan Mamak yang begitu
tegar dan dingin, Bapak justru orang yang paling mudah menangis. Saat melepas
aku pergi ke asrama, Bapak menangis sejadi-jadinya sambil memelukku erat karena
berat melepaskan anaknya jauh dari rumah. Rumah kami akhirnya seperti panggung
di mana dua jenis gondang bertalu bersama. Alih-alih saling tabrakan, perbedaan
karakter yang kuat antara Toba dan Karo itu justru berpadu menjadi sebuah
harmoni yang sangat unik.
Sejak kecil, berada di persimpangan dua budaya ini
secara tidak langsung menempahku menjadi pribadi yang adaptif. Aku tidak
dibesarkan untuk melihat dunia secara kotak-kotak. Karena terbiasa menjembatani
perbedaan di dalam rumah, secara alami aku tumbuh dengan rasa solidaritas yang
tinggi dan kemampuan bergaul yang luwes. Panggil aku ke lingkaran mana saja,
aku akan dengan mudah melebur di sana.
Sangat disayangkan jika masih ada orang yang
terjebak dalam batas-batas sukuisme yang kaku, seolah satu suku lebih unggul
dari yang lain. Padahal, menjadi perpaduan itu sangat menyenangkan! Kita jadi
punya ruang pandang yang lebih luas dan hati yang lebih lapang untuk menerima
orang lain.
Perpaduan ini juga menumbuhkan ketangguhan dan
ketegasan mental di dalam diriku. Pengaruh dari kedua suku yang sama-sama
pekerja keras ini membentukku menjadi pribadi yang bermental kuat, berani
menyuarakan pendapat, dan memiliki daya juang saat menghadapi tantangan. Selain
itu, aku juga belajar bagaimana menyeimbangkan diri: kapan harus bersikap tegas
dan blak-blakan khas gaya Toba, dan kapan harus membaca situasi dengan
hati-hati serta penuh rasa hormat khas gaya Karo.
Makna terdalam dari menjadi anak blasteran ini
akhirnya mengajariku bahwa darah yang mengalir di tubuhku bukan sekadar warisan
biologis, melainkan sebuah simbol perdamaian. Jika di dalam diriku saja dua
suku yang berbeda bisa menyatu dalam satu detak jantung yang sama, lalu mengapa
kita di luar sana harus saling menjauh hanya karena perbedaan baju adat?
Perbedaan di dalam rumahku tidak pernah memecah belah, justru dari sanalah aku
belajar arti toleransi yang sesungguhnya.
Oleh karena itu, bagi teman-teman yang juga lahir
di tengah-tengah perpaduan budaya atau perbedaan apa pun di dalam keluarga,
mari kita berdiri dengan tegak dan bangga. Jangan pernah merasa minder atau
menganggap perbedaan itu sebagai sebuah kerumitan. Kita harus bangga dengan dua
dunia yang menyatu di dalam diri kita, karena justru dari sanalah kita dibentuk
menjadi pribadi yang sangat unik. Kita memiliki kapasitas hati yang lebih besar
untuk memahami berbagai sudut pandang, sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh
semua orang.
Aku bangga menjadi anak blasteran Toba dan Karo.
Dari perpaduan ini, aku belajar bahwa manusia tidak diciptakan untuk seragam,
melainkan untuk saling melengkapi. Dan bagiku, solidaritas serta kemudahan
dalam merangkul sesama bukanlah sesuatu yang harus kupelajari lewat buku—ia
adalah warisan yang sudah mengalir di dalam nadiku sejak aku dilahirkan.

Keren
BalasHapus