Aku
sering bertanya pada diriku ke mana aku akan pergi ? Pergi mencari sesuatu yang
memberi kebahagiaan didalam panggilan ini. Pertanyaan itu bukan hanya tentang
arah, tetapi tentang kesetiaan pada panggilan yang kujalani saat ini. Kadang
aku membayangkan kebahagiaan ada di suatu tempat yang lebih tenang, di
hari-hari tanpa konflik, atau di karya pelayanan dan komunitas yang selalu
penuh sukacita. Namun, semakin aku aku mencari semakin aku tak mendapatkan
kebahagiaan itu. Dalam keheningan aku tersadar bahwa panggilan ini
mengajarkanku tentang hidup yang tidak selalu mulus. Ada hari di mana perbedaan
pendapat menguji kesabaran, ada tugas yang menuntut tenaga lebih dari yang
kupikir mampu, ada pelayanan yang tidak selalu dihargai.
Di sinilah aku berjuang secara kontekstual
menghadapi realitas apa adanya, bukan menunggu dunia menjadi sempurna. Hadir
dan ada dalam realitas kehidupan saat ini. Bukan hidup dalam pikiran dan
harapan yang semu. Kontekstual berarti saya bergabung dan menyesuaikan diri
dengan kenyataan saat ini. Harapan dan pengalaman masa lalu bukan menjadi
penghalang dalam panggilan. Perjuangan ini justru menjadi ruang di mana Tuhan
menumbuhkan kesetiaanku. Kebahagiaan ternyata tidak datang ketika semua masalah
selesai,tetapi saat aku mampu hadir penuh dalam momen sekarang, mengizinkan
rahmat-Nya mengalir di tengah kekurangan.
Panggilan
ini bukan tentang mencari tempat yang lebih mudah, tetapi tentang menemukan
Tuhan di tempat aku diutus. Bukan tentang menghindar dari tantangan, tetapi
membiarkan kasih-Nya memampukanku menghadapinya. Pekerjaan sederhana pun akan
sangat berharga dihadapan Tuhan jika aku sungguh sungguh mempersembahkannya
pada Tuhan. Maka pertanyaanku berubah bukan lagi “Ke mana aku akan pergi?” tetapi
“Bagaimana aku akan setia di sini, dalam perjuangan ini?” Karena saat aku
berjalan bersama Dia, bahkan di tengah tantangan paling nyata, aku tahu inilah
kebahagiaan yang kucari sejak awal panggilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar