Senin, 08 September 2025

Sukacita Panggilan Religius

 

Aku sering bertanya pada diriku ke mana aku akan pergi ? Pergi mencari sesuatu yang memberi kebahagiaan didalam panggilan ini. Pertanyaan itu bukan hanya tentang arah, tetapi tentang kesetiaan pada panggilan yang kujalani saat ini. Kadang aku membayangkan kebahagiaan ada di suatu tempat yang lebih tenang, di hari-hari tanpa konflik, atau di karya pelayanan dan komunitas yang selalu penuh sukacita. Namun, semakin aku aku mencari semakin aku tak mendapatkan kebahagiaan itu. Dalam keheningan aku tersadar bahwa panggilan ini mengajarkanku tentang hidup yang tidak selalu mulus. Ada hari di mana perbedaan pendapat menguji kesabaran, ada tugas yang menuntut tenaga lebih dari yang kupikir mampu, ada pelayanan yang tidak selalu dihargai.

 Di sinilah aku berjuang secara kontekstual menghadapi realitas apa adanya, bukan menunggu dunia menjadi sempurna. Hadir dan ada dalam realitas kehidupan saat ini. Bukan hidup dalam pikiran dan harapan yang semu. Kontekstual berarti saya bergabung dan menyesuaikan diri dengan kenyataan saat ini. Harapan dan pengalaman masa lalu bukan menjadi penghalang dalam panggilan. Perjuangan ini justru menjadi ruang di mana Tuhan menumbuhkan kesetiaanku. Kebahagiaan ternyata tidak datang ketika semua masalah selesai,tetapi saat aku mampu hadir penuh dalam momen sekarang, mengizinkan rahmat-Nya mengalir di tengah kekurangan.

Panggilan ini bukan tentang mencari tempat yang lebih mudah, tetapi tentang menemukan Tuhan di tempat aku diutus. Bukan tentang menghindar dari tantangan, tetapi membiarkan kasih-Nya memampukanku menghadapinya. Pekerjaan sederhana pun akan sangat berharga dihadapan Tuhan jika aku sungguh sungguh mempersembahkannya pada Tuhan. Maka pertanyaanku berubah bukan lagi “Ke mana aku akan pergi?” tetapi “Bagaimana aku akan setia di sini, dalam perjuangan ini?” Karena saat aku berjalan bersama Dia, bahkan di tengah tantangan paling nyata, aku tahu inilah kebahagiaan yang kucari sejak awal panggilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ego Sukuisme? Ah, Menjadi Perpaduan Itu Jauh Lebih Seru!

  Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam rumah ki...