Rabu, 01 April 2026

“Sejarah Kongregasi SFD”

 

“Sejarah Kongregasi SFD”

            Pendiri kongregasi Suster-Suster Fransikanes Dongen adalah Muder Konstansia van der Linden. Pada awalnya Muder Konstansia adalah suster Penitenten Recollectin. Muder Yohana Yesus adalah pendiri biara Penitenten Recollectin. Setelah Yohana Yesus wafat pada tanggal 26 Agustus 1648 situasi politik pada saat itu mengalami perubahan besar. Pemerintah berbagai negara Eropa mengambil Tindakan menentang biara-biara. Sebagian karena minat terhadap kekayaan yang sudah dihimpun beberapa komunitas biara tetapi ada juga karena keprihatinan untuk semacam pemurnian kehidupan membiara itu sendiri. Cara hidup beberapa kelompok biarawan biarawati mengundang pertentangan dari pihak warga. Pada umumnya rakyat mempersalahkan para biarawan biarawati karena mereka tidak berbuat apa apa, memiliki kekayaan luar biasa, dan merepotkan warga dengan mengemis.

            Untuk wilayah selatan Nederland, kaisar Maria Theresia ( 1740-1780 ) ia mengikat milik biara biara, menaikkan usia orang yang boleh mengucapkan kaul, menghapus mas kawin, penerimaan hadiah dan hibah bagi biarawati.

            Pada tahun 1783 Kaisar Yosef II mengumumkan bahwa semua biara yang tidak bermanfaat dibubarkan. Hanya ordo dan kongregasi yang bermanfaat bagi masyarakat yang tidak dibubarkan karena memberikan pengajaran, perawatan orang sakit dan pengayoman orang miskin yang terus ada. “Siapa yang tidak melayani sesama tidak melayani Allah” begitu pendapat Yosef II. Pada saat itu, semua harta milik disita, gedung gedung dikosongkan, biarawan biarawati diusir dan Kembali ke tanah kelahiran mereka.

            Waktu Revolusi Prancis biara di Leuven dibubarkan dan para religius dipaksa untuk mengosongkannya. Biara yang sama nasibnya dengan mereka itu ialah biara Pater Kapusin dan biara para suster St. Victor ( Witte Vrouwen ). Dikemudian hari penyelenggaraan Ilahi mempergunakan orang orang dari ketiga komunitas yang dibubarkan ini untuk memindahkan Revormasi Limburg ke tanah Belanda. Sr Maria Konstansia van der Liden dan Sr Maria Angelina Kerkhof membuat rencana untuk mendirikan biara baru ditanah orang asing. Dan Pater Linus diminta oleh Minister Provinsi untuk memperhatikan nasib para suster yang telah diusir itu. Pater Linus menemukan tempat yang aman bagi kedua suster tersebut di Bokhoven.

            Ditahun 1798 kedua suster berangkat untuk perjalananya yang berbahaya itu, setelah mengalami berbagai kesusahan tibalah mereka di Bokhoven dan mereka disambut dengan hangat oleh pastor setempat yaitu Tuan de Bruijen. Tetapi karena  tiada prospek disana untuk mendirikan biara, mereka memutuskan untuk mendirikan biara di Besoyen. Disini bergabunglah suster dari Leuven yakni Sr Francoise Timmemans dri biara para perempuan putih dan Sr Coleta Koopmans dari peniten recolek. Pada tahun 1800 mereka pindah ke Waalwijk karena mereka diberi rumah lebih baik. Komunitas kecil ini mendapat tambahan anggota yakni Sr Teresia Brockaers, seorang suster Peniten recolek dari biara di Maastricht dan Sr Emanuel  Servaes yang Ketika biara di Leuven dibubarkan masih novis disana.

 Setelah itu, para suster membuka suatu sekolah yang dengan cepat mendapat banyak murid. Keinginan mereka yang paling besar ialah mendirikan komunitas kebiaraan yang teratur dan juga mendirikan asrama,dimana mereka dapat membaktikan diri kepada Pendidikan kaum muda.Tetapi mereka miskin dan tidak memiliki dana dengan penuh kepercayaan,mereka mulai berdoa dan permohonannya di kabulkan berkat penentuan Penyelengaraan Ilahi yang menakjubkan,maka pada tahun 1801 mereka mendapatkan rumah yang cukup besar dan cocok sekali di jadikan untuk asrama di Dongen.Tuan Adrianus Oomen wali vikariat Breda menjadi pemimpin rohani tarekat mereka.Komunitas terdiri enamanggota:Sr.Konstansia,Sr.Coleta,Sr.Francoise,Sr.Teresia, Sr.Emanuel(novis),Sr.Yosef(novis).Dengan demikian telah di dirikan biara suster peniten rekolek dari reformasi limburg yang pertama di Belanda.

Pada saat itu biara dan pensionat masih Bersatu sehingga para suster tidak menerima pensionat lebih dari jumlah yang dapat makan Bersama satu meja yang berisi 10 orang. Namun Van Gils dan Oomen berkata bahwa kehidupan membiara harus diperhatikan tetapi hal hal tambahan pun harus diperhatikan karena kebutuhan yang baru yang tidak ada dalam Kostitusi asli. Para suster telah akrab dengan doa doa malam, puasa dan mendera tubuh mereka karena karakter Ordo Kontemplatif yg melekat dalam diri mereka. Tetapi desakan Van Gils kepada Oomen tidak dapat ditolak lagi maka mereka tunduk, taat secara tulus walaupun hati mereka terbelah.

Presiden Van Gils mengakui bahwa pendirian baru ini merupakan dukungan kuat bagi emansipasi Wanita Katolik. Bila Wanita terbentuk maka prianya juga akan mengikuti. Oleh karenanya Dongen harus ikut peduli dengan mengorbankan karakter Ordo sendiri. Mengenai kerasnya peraturan Konstitusi Kerasulan membuat para suster mulai melemah dalam Kesehatan dengan beratnya pekerjaan dan kelelahan sehingga Sebagian besar peraturan harus diganti. Tuhan pada jaman ini tidak menuntut kekerasan para suster tetapi agar lebih menyesuaikan dengan kebutuhan mendesak dan kebutuhan kristiani yaitu bahwa mereka harus lebih memberikan perhatian kepada sesama.itu tidak mengurangi usaha pada kesempurnaan pribadi Allah ingin agar para religious membaharui semangat kemiskinan seperti umat Kristen pertama miskin dan rendah hati.seperti para rasul harus bekerja mencari nafkah.kasih antar sesame dan hidup dalam kebersamaan terbina hingga dalam karya orang dapat bekerjasama dan merasa saling membutuhkan.kemudian dengan situasi yang sekarang di alami bapa pembimbing menetapkan puasa dalam peraturan dan konstitusi di ringankan sehingga semua yang harus mengajar dan belajar juga yang harus bekerja keras setiap pagi di wajibkan sarapan.bapa pemimpin lebih kuat menganjurkan meditasi karena merupakan pengasah rohani membersihkan kotoran atau karat jiwa bahkan juga mengatur  tubuh.

SUSTER suster dongen pertama berkembang dengan terpuji dan mereka dengan rendah hati taat kepada pembimbing yang pada waktu itu di berikan Allah,berkat dariAllah.berkat itu berupa Pengorbanan.pada tgl 10 Maret 1803 seorang gadis pensionat berusia 13 thn,Bernama Barbara van Gatenhove meninggal dunia.pada tgl 19 April seorang putri berusia 20 thn dari waalwijk menerima busana biara dengan nama Sr.Victoire.pada tgl 21 April 1803 pegawai kehakiman dan kotapraraja mengabulkan permohonan Muder Constansia Van der linden.sehingga para ibu guru dan pensioner bebas dari pendudukan militer.juga bebas dan tanpa halangan boleh mengelola sekolah dan dengan demikian mereka mengajar dan mendidik sesuai dengan tuntutan.

Hari Kaul Pertama di Biara Dongen pada tanggal 17 Desember 1802 dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan dan bergembira Bersama. Setelah tanggal 17 Desember 1802 Direktur Adrianus Oomen mengangkat Suster Konstansia  menjadi pimpinan sebab dialah yang tertua dan kepadanya anggota lainnya sudah taat sejak dahulu. Sebagai asisten diangkat Sr. Coleta. Sr. Francoise meninggal di Dongen berusia 72 tahnu pada tahun 1820.

             Pada tanggal 4 Oktober 1814 meninggalnya Muder Konstansia. Sr.Agustina menggantikkannya dan Sr.Yosef menjadi vikaris dua tahun kemudian meninggallah pemimpin rohani  biara Dongen yaitu Tuan Oomen beliau di ganti oleh Tuan Van Hooijdonk yang tahun 1853 di angkat menjadi uskup pertama keuskupan Breda. Perhimpunan mereka ini disebut dengan ibu ibu guru Dongen atau kongregasi secular dengan kaul sederhana. Tahun 1816 kongregasi ini diakui oleh Van Gils sebagai biara. Pada tanggal 21 April 1803 Muder Konstansia mndesak pemerintah Kotapraja untuk memberikan bantuan namun hal itu diperhatikan setelah Muder Konstansia meninggal. Pada 14 Desember 1814 Sr Agustine dan sesame susternya menandatangani akta. Kepemimpina Muder Agustine mulai 4 Oktober 1814 sampai Mei 1840.

 Ketika Muder Agustine sakit ia menyerahkan kepemimpinannya kepada Sr Aldegondis Smits. Kepemimpinannya mulai 18 Oktober sampai 14 Juni 1851. Pada kepemipinanya adanya rumasan pengikraran yang baru dan pada Mei 1839 sekolah untuk anak anak miskin mulai dikembangkan. Pada tanggal 20 Mei 1851 Mgr.Van Hooydonk mengesahkan rancangan statuta untuk Pensionat. Pada tanggal 14 Juni 1851 Mere Aldegondis meninggal dunia. Dalam kepemimpinanya yang pendek tidak ada karya besar yang ia lakukan tetapi ia melaksanakan tugasnya dengan mengembangkan tradisi lama.

Setelah Meninggalnya Mere Aldegondis maka kepemimpinannya digantikan oleh Mere Therese Bosmans mulai tanggal 20 Juli 1851 sampai 23 November 1882. Sebelum menjadi pemimipin ia menjadi Pemimpin Novis. Pada kepemimpinanya ini berlakulah Yayasan yang didirikan di Dongen sebagai badan dibawah semboyan. Perhimpunan Pendidikan dan pengajaran dan dengan demikian memiliki Badan Hukum Sipil. Pada tanggal 8 September berangkatlah para suster dari Dongen ke Oosterhout. Tanggal 9 September biara Keluarga Kudus dibuka. Bulan Oktober 1857 biara baru sudah dapat ditempati dalam bulan November sekolah dibuka. Pada saat kepemimpinan Mere Therese Walikota Dongen memberitahu bahwa di sini tidak ada Perhimpuna Rohani melainkan hanya sebuah pensionat untuk guru guru dan puteri muda sehingga membuat para suster merasakan ada kesedihan dan keputusasaan dan merasa ada tekanan dan hal ini sangat berpengaruh buruk terhadap kehidupan biara. Pada tahun 1860 orang orang mulai memberikan perhatian pada biara biara. Pada kepemimpinanya ia berpegang teguh pada karakternya yang tertutup terhadap Peniten Rekolek tua. Keunggulan Mere Therese dan dewannya terletak pada bangunan  kapel baru.Mere Therese sulit melepakskan kepemimpinanaya atas pensionet serta urusan duniawi yang penting dari kongregasi oleh sebab itu para suster yang lain mengharapkan agar Mere Therese  dapat memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohani para suster para suster dan dewan penasihatnya mengatakan Mere Therese terlalu banyak  mengadakan penghematan.Ia juga memeiliki karakter yang sulit untuk bekerja sama Ia sering menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan menanggung akibatnya sendiri Ia memiliki kemanusiaan sendiri meski ia seorang religius dan pimpinan yang begitu keras terhadap diri sendiri dalam mengayati kemiskinan bagi diri sendiri maka hal ini menimpa orang lain juga namun dibalik semua kekurangannya itu Ia memiliki pengorbanan yang besar .Mere Therese meninggal karena pengapuran pada tgl 23 November 1882 dalam usia 72 thn.selama 31 thn Ia mengemban tugas sebagai pemimpin 8 rumah cabang di dirikannya.pada awal kepemimpinanya Suster hanya 30 orang pada waktu ia meninggal ada 100 orang Suster sebagai anggota kongregasi.pensionat mengalami perubahan besar,pengajaran mengalami peningkatan dan kompleks bangunan di perluas.

Sejak 30 Juli 1868 SR Bonaventura Van Dijk mendampingi Mere Therese untuk mendampingi kongregasi Ia telah berfungsi sebagai pemimpin umum sejak 27 januari 1883-2 Sep1883.dalam kepemimpinanaya Ia berbicara mengenai tujuan pengajaran,mengenai pentingnya semangat pengorbanan dan sarana sarana untuk memudahkan,menyenangkan dan berguna bagi pelayanan.Ia menunjukkan ciri khas atas keahliannya dalam pedagogi atas pengajarannya pada para susternya.pada tgl 2 Sep Ia mengundurkan diri sebagai pemimpin .pada tgl 5 Sep Ia berangkat ke rumah yatim piatu di Steenbergen sebagi pimpinan. Ia meninggal pada usia 67 thn.

Pada tanggal 5 Sep 1883 sampai 30 Agustus 1902  Mere Odille Claessen menjadi pemimpin umum, pada masa ini mereka juga memperingati 100 thn perhimpunan  dengan meriah pada masa kepemimpinananya Ia mendirikan satu rumah cabang besar di Amsterdam,ketenaran tertinggi ialah dengan mendirikan sekolah guru santo Antonius.

Pada tanggal 30 agustus1902 Mere Jeanne Willems mengatakan walaupun sudah berusia 66 tahun ia siap memimpin kongregasi.Pada masa kepemimpinannya perkembangan jumlah religius dalam tahun 1907 menuntut adanya penyesuain edisi baru dari peraturan dan konstitusi.Mgr.P.Leitjen memberikan pengesahan pada tanggal 1 november 1907 dan memberikan semangat kepada religius untuk melaksanakan dengan cermat konstitusi yang telah diubah.Kekuatannya yang melemah memengaruhi kemampuannya sehingga pada tanggal 1 september 1909 ia memohon pemberhentian dari tugasnya.Ia meninggal di Dongen pada tanggal 15 desember 1915.

            Kepemimpinan Mere Jeanne digantikan oleh Mere Bertille van Helvoort yang berusia 52 tahun mulai 1 September 1909 sampai 17 Agustus 1929.Dekret 12 Januari 1923 bagi Kongregasi Dongen akan diakui sebagai satu keluarga Religius diosesan dengan nama haru Peniten Rekolektin dari Ordo Ketiga Santo Fransiskus Asisi. Konstitusi yang seluruhnya diubah diberi pengesahan oleh pimpinan rohani pada Pesta Santa Clara 1925. Sejak 14 september 1920 telah mendapat tawaran untuk pengiriman beberapa suster misionaris dalam wilayah misi saudara dina kapusin medan, Sumatera. Sehingga ditetapkan bahwa keberangkatan para suster pada tanggal 17 Maret 1923. Pada tanggal 17 Agustus 1929 ia turun dari kursi kepemimpinannya. Pada masa kepemimpinannya jumlah anggota 400 orang, dan 14 rumah cabang dan satu stasi misi karya. Ia meninggal pada tanggal 2 Desember 1935 pada usia 78 tahun.

            Mulai 17 agustus 1929 Mere Isabella Laane menerima tugas sebagai Pemimpin umum. Pada masa kepemimpinannya hal yang berkembang dalam perhimpuna adalah pengajaran dan Pendidikan, berkarya ditanah misi, dan juga di kongregasi Dongen ada perawatan orang sakit. Juga adanya tempat yang nyaman untuk para suster yang sepuh dan sakit.

KARYA MISI

            Perhimpunan Peniten Rekolektin dari Roosendal dari Mere Marie Joseph pada tahun 1841 membentangkan hati dan tangan untuk menyeberang lautan menuju Curacao dan mereka merupakan anggota biara Wanita yang pertama Nederland yang berkarya di tanah misi. Para Suster Peniten rekolek diharapkan untuk bekerja di wilayah Misi Kapusin di Sumatera dan diterima oleh Pater matthiah de Wolf OFM Cap. Pada tanggal 1 April 1923 beberapa suster misionaris akan menyeberangi lautan. Pada tanggal 17 Maret 1923 berangkatlah enam suster misionaris Dongen ke Misi Sumatera. Antara lain adalah : Suater Edmunda Mulder dari Amsterdam, Suster Hildegardis de Wit dari Amsterdam, Suster Salesia Hazelzet dari Amsterdam, Suster Pudentiana Cuelenaere dari Aadenburg, Suster Laurentine Pijnenburg dari Alphen, Suster Leo Pelkmans dari Teteringen. 

            Para suster misionaris tiba di Medan pada tanggal 17 April dan tinggal sementara disebuah rumah milik keluarga Cina di seberang gereja. Pada tanggal 2 Juli 1923 sekolah dibuka. Kemudian didirikan jugalah sekolah di Tanjung Balai yang dibuka pada tahun 1926. Sehingga pada tanggal 11 Oktober 1924 Mere Bertille dan dewannya siap untuk mengirim para suster lagi. Pada bulan Juli tahun 1924 Sr Hildegardis mengajar Katekismus kepada 20 anak laki laki dan perempuan. Pada tanggal 17 Desember Sr Rudolphine van den Brand ditunjuk sebagai misionaris. Pada tanggal 8 April ia tiba di Medan dengan sesame susternya yaitu Sr Anselma Oprins dan Sr Alphonsine Swagemakers. Para Misionaris baru menghadiri perletakan batu pertama rumah suster dan asrama pada tanggal 17 Mei 1925. Pada tanggal 2 januari pembukaan resmi dan tanggal 3 januari 1926 dilangsungkan pemberkatan meriah. Pada 21 April 1926 tiga Misionaris tiba di Medan yaitu Sr Eligia de Wolf, Sr Ursula van Dun, kemudian diikuti segerombolan misionaris pada tanggal 26 September yaitu Sr Henriette Laane, Sr Jeanne van Happeren, Sr Willibrorde Huyben dan Sr Theobalda Oprins. Juga Mere Bertille mengirim Vikarisnya Mere Theresia Ruygrok sebagai utusan untuk mengadakan visitasi. Pada tanggal 30 Oktober 1926 Sr Henriette, Sr Ursulan dan Sr Willibrorde harus meninggalkan tempat kerjanya untuk memenuhi permintaan Pastor Marinus Spanjer untuk membuka sekolah Holland Cina di Tnjung Balai. Pada tanggal 5 januari 1928 Sr Josephine Ghuys dan Sr emilia van Dongen sampai di Medan untu membantu misi. Pada saat itu Sr Theobalda meninggal. Ia tiba di sumatera pada tanggal 28 September 1926 dan meninggal pada tanggal 25 April 1929. Pada awal tahu 1930 Mere Isabella Bersama anggota dewan, Sr Dominika Franken mengadakan visitasi ke Indonesia dan membwa suster tenaga baru. Tanggal 5 mei 1932 datang jugalah para suster tenaga baru. Tahun 1936 Mere Isabella mengadakan visitasi untuk kedua kalinya. Juga ia berterima kasih atas karya mereka  di Misi Padang yang sejak 21 Juli 1932 sudah menjadi Vikariat Apostolik.

            Atas desakan dari Vikarias apostolik Kalimantan Nederland, Mgr T van Valenberg OFM Cap, para suster Peniten Rekolektin Dongen menerima stasi Misi di Banjarmasin pada musim rontok 1937. Pada bulan April  dan September 1973 enam suster sampai di stasi Banjarmasin yaiyu Sr Theobalda van Gool, Sr Richarde Kanters, Sr lamberta Beerens, Sr Lucretia Sinack,  Sr Clementia Geerden dan Sr Josephine Jacoba. Pada bulan Januari 1940 masih ada dua suster dating lagi yaitu Sr Hedwigis Dinnewet dan sr Maria Petra Brouwers. Di Banjarmasin ada 7 suster misionaris dan di Medan ada 26 suser misionaris.

            Keutamaan keutamaan yang merupakan  penopang hidup mereka adalah  KEMURNIAN HATI,KEMISKINAN DI HADAPAN ALLAH,CINTA KASIH SATU SAMA LAIN DAN MATIRAGA.

Referensi :

-          Buku Sebuah Harta Tersembunyi

-          Buku SKPRD

-          Buku Muder Yohana Yesus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ego Sukuisme? Ah, Menjadi Perpaduan Itu Jauh Lebih Seru!

  Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam rumah ki...