“Sejarah Kongregasi SFD”
Pendiri kongregasi Suster-Suster Fransikanes
Dongen adalah Muder Konstansia van der Linden. Pada awalnya Muder Konstansia adalah suster
Penitenten Recollectin. Muder Yohana Yesus adalah pendiri biara Penitenten
Recollectin. Setelah Yohana Yesus wafat pada tanggal 26 Agustus 1648 situasi
politik pada saat itu mengalami perubahan besar. Pemerintah berbagai negara
Eropa mengambil Tindakan menentang biara-biara. Sebagian karena minat terhadap
kekayaan yang sudah dihimpun beberapa komunitas biara tetapi ada juga karena
keprihatinan untuk semacam pemurnian kehidupan membiara itu sendiri. Cara hidup beberapa kelompok biarawan biarawati mengundang
pertentangan dari pihak warga.
Pada umumnya rakyat mempersalahkan para biarawan biarawati karena mereka tidak berbuat apa apa, memiliki kekayaan luar biasa, dan
merepotkan warga dengan mengemis.
Pada
tahun 1783 Kaisar Yosef II mengumumkan
bahwa semua biara yang tidak bermanfaat dibubarkan. Hanya ordo dan kongregasi yang bermanfaat
bagi masyarakat yang tidak dibubarkan karena memberikan pengajaran, perawatan
orang sakit dan pengayoman orang miskin yang terus ada. “Siapa yang tidak
melayani sesama tidak melayani Allah” begitu pendapat Yosef II. Pada saat itu,
semua harta milik disita, gedung
gedung dikosongkan, biarawan biarawati diusir dan Kembali ke tanah kelahiran
mereka.
Waktu
Revolusi Prancis biara di Leuven dibubarkan dan para religius dipaksa untuk
mengosongkannya. Biara yang sama nasibnya dengan mereka itu ialah biara
Pater Kapusin dan biara para suster St. Victor ( Witte Vrouwen ). Dikemudian
hari penyelenggaraan Ilahi mempergunakan orang orang dari ketiga komunitas yang
dibubarkan ini untuk memindahkan Revormasi Limburg ke tanah Belanda. Sr Maria Konstansia van der Liden dan Sr Maria Angelina Kerkhof
membuat rencana untuk mendirikan biara baru ditanah orang asing. Dan Pater Linus diminta oleh
Minister Provinsi untuk memperhatikan nasib para suster yang telah diusir itu.
Pater Linus menemukan tempat yang aman bagi kedua suster tersebut di Bokhoven.
Ditahun
1798 kedua suster berangkat untuk
perjalananya yang
berbahaya itu, setelah mengalami berbagai kesusahan tibalah mereka di Bokhoven
dan mereka disambut dengan hangat oleh pastor setempat yaitu Tuan de Bruijen.
Tetapi karena tiada prospek disana untuk
mendirikan biara, mereka memutuskan untuk mendirikan biara di Besoyen. Disini
bergabunglah suster dari Leuven yakni Sr Francoise Timmemans dri biara para
perempuan putih dan Sr Coleta Koopmans dari peniten recolek. Pada tahun 1800 mereka pindah ke Waalwijk karena mereka diberi
rumah lebih baik.
Komunitas kecil ini mendapat tambahan anggota yakni Sr Teresia Brockaers,
seorang suster Peniten recolek dari biara di Maastricht dan Sr Emanuel Servaes yang Ketika biara di Leuven
dibubarkan masih novis disana.
Setelah itu, para suster membuka suatu sekolah
yang dengan cepat mendapat banyak murid. Keinginan
mereka yang paling besar ialah mendirikan komunitas kebiaraan yang teratur dan
juga mendirikan asrama,dimana mereka dapat membaktikan diri kepada Pendidikan
kaum muda.Tetapi
mereka miskin dan tidak memiliki dana dengan penuh kepercayaan,mereka mulai berdoa dan permohonannya di kabulkan berkat penentuan
Penyelengaraan Ilahi yang
menakjubkan,maka pada tahun 1801 mereka
mendapatkan rumah yang cukup besar dan cocok sekali di jadikan untuk asrama di Dongen.Tuan Adrianus Oomen wali vikariat Breda
menjadi pemimpin rohani tarekat mereka.Komunitas terdiri enamanggota:Sr.Konstansia,Sr.Coleta,Sr.Francoise,Sr.Teresia,
Sr.Emanuel(novis),Sr.Yosef(novis).Dengan demikian telah di dirikan biara suster
peniten rekolek dari reformasi limburg yang pertama di Belanda.
Pada saat itu biara
dan pensionat masih Bersatu sehingga para suster tidak menerima pensionat lebih
dari jumlah yang dapat makan Bersama satu meja yang berisi 10 orang. Namun Van
Gils dan Oomen berkata bahwa kehidupan membiara harus diperhatikan tetapi hal
hal tambahan pun harus diperhatikan karena kebutuhan yang baru yang tidak ada
dalam Kostitusi asli. Para suster telah akrab dengan doa doa malam, puasa dan
mendera tubuh mereka karena karakter Ordo Kontemplatif yg melekat dalam diri
mereka. Tetapi desakan Van Gils kepada Oomen tidak dapat ditolak lagi maka
mereka tunduk, taat secara tulus walaupun hati mereka terbelah.
Presiden Van Gils
mengakui bahwa pendirian baru ini merupakan dukungan kuat bagi emansipasi
Wanita Katolik. Bila Wanita terbentuk maka prianya juga akan mengikuti. Oleh
karenanya Dongen harus ikut peduli dengan mengorbankan karakter Ordo sendiri.
Mengenai kerasnya peraturan Konstitusi Kerasulan membuat para suster mulai
melemah dalam Kesehatan dengan beratnya pekerjaan dan kelelahan sehingga Sebagian
besar peraturan harus diganti. Tuhan pada jaman ini tidak menuntut kekerasan
para suster tetapi agar lebih menyesuaikan dengan kebutuhan mendesak dan
kebutuhan kristiani yaitu bahwa mereka harus lebih memberikan perhatian kepada
sesama.itu tidak mengurangi usaha pada kesempurnaan pribadi Allah ingin agar
para religious membaharui semangat kemiskinan seperti umat Kristen pertama
miskin dan rendah hati.seperti para rasul harus bekerja mencari nafkah.kasih
antar sesame dan hidup dalam kebersamaan terbina hingga dalam karya orang dapat
bekerjasama dan merasa saling membutuhkan.kemudian dengan situasi yang sekarang
di alami bapa pembimbing menetapkan puasa dalam peraturan dan konstitusi di
ringankan sehingga semua yang harus mengajar dan belajar juga yang harus
bekerja keras setiap pagi di wajibkan sarapan.bapa pemimpin lebih kuat
menganjurkan meditasi karena merupakan pengasah rohani membersihkan kotoran
atau karat jiwa bahkan juga mengatur
tubuh.
SUSTER suster dongen
pertama berkembang dengan terpuji dan mereka dengan rendah hati taat kepada
pembimbing yang pada waktu itu di berikan Allah,berkat dariAllah.berkat itu
berupa Pengorbanan.pada tgl 10 Maret 1803 seorang gadis pensionat berusia 13
thn,Bernama Barbara van Gatenhove meninggal dunia.pada tgl 19 April seorang
putri berusia 20 thn dari waalwijk menerima busana biara dengan nama
Sr.Victoire.pada tgl 21 April 1803 pegawai kehakiman dan kotapraraja
mengabulkan permohonan Muder Constansia Van der linden.sehingga para ibu guru
dan pensioner bebas dari pendudukan militer.juga bebas dan tanpa halangan boleh
mengelola sekolah dan dengan demikian mereka mengajar dan mendidik sesuai
dengan tuntutan.
Hari Kaul Pertama di
Biara Dongen pada tanggal 17 Desember 1802 dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan
dan bergembira Bersama. Setelah tanggal 17 Desember 1802 Direktur Adrianus
Oomen mengangkat Suster Konstansia menjadi pimpinan sebab dialah yang tertua dan
kepadanya anggota lainnya sudah taat sejak dahulu. Sebagai asisten diangkat Sr.
Coleta. Sr. Francoise meninggal di Dongen berusia 72 tahnu pada tahun 1820.
Pada tanggal
4 Oktober 1814 meninggalnya Muder Konstansia. Sr.Agustina menggantikkannya dan Sr.Yosef
menjadi vikaris dua tahun kemudian meninggallah pemimpin rohani biara Dongen yaitu Tuan Oomen beliau di ganti
oleh Tuan Van Hooijdonk yang tahun 1853 di angkat menjadi uskup pertama
keuskupan Breda. Perhimpunan mereka ini disebut dengan ibu ibu guru Dongen atau
kongregasi secular dengan kaul sederhana. Tahun 1816 kongregasi ini diakui oleh
Van Gils sebagai biara. Pada tanggal 21 April 1803 Muder Konstansia mndesak
pemerintah Kotapraja untuk memberikan bantuan namun hal itu diperhatikan
setelah Muder Konstansia meninggal. Pada 14 Desember 1814 Sr Agustine dan
sesame susternya menandatangani akta. Kepemimpina Muder Agustine mulai 4
Oktober 1814 sampai Mei 1840.
Ketika Muder Agustine sakit ia menyerahkan
kepemimpinannya kepada Sr Aldegondis Smits. Kepemimpinannya mulai 18 Oktober
sampai 14 Juni 1851. Pada kepemipinanya adanya rumasan pengikraran yang baru
dan pada Mei 1839 sekolah untuk anak anak miskin mulai dikembangkan. Pada
tanggal 20 Mei 1851 Mgr.Van Hooydonk mengesahkan rancangan statuta untuk
Pensionat. Pada tanggal 14 Juni 1851 Mere Aldegondis meninggal dunia. Dalam
kepemimpinanya yang pendek tidak ada karya besar yang ia lakukan tetapi ia
melaksanakan tugasnya dengan mengembangkan tradisi lama.
Setelah Meninggalnya Mere Aldegondis maka kepemimpinannya digantikan oleh Mere Therese Bosmans mulai tanggal 20 Juli 1851 sampai 23 November 1882. Sebelum menjadi pemimipin ia menjadi Pemimpin Novis. Pada kepemimpinanya ini berlakulah Yayasan yang didirikan di Dongen sebagai badan dibawah semboyan. Perhimpunan Pendidikan dan pengajaran dan dengan demikian memiliki Badan Hukum Sipil. Pada tanggal 8 September berangkatlah para suster dari Dongen ke Oosterhout. Tanggal 9 September biara Keluarga Kudus dibuka. Bulan Oktober 1857 biara baru sudah dapat ditempati dalam bulan November sekolah dibuka. Pada saat kepemimpinan Mere Therese Walikota Dongen memberitahu bahwa di sini tidak ada Perhimpuna Rohani melainkan hanya sebuah pensionat untuk guru guru dan puteri muda sehingga membuat para suster merasakan ada kesedihan dan keputusasaan dan merasa ada tekanan dan hal ini sangat berpengaruh buruk terhadap kehidupan biara. Pada tahun 1860 orang orang mulai memberikan perhatian pada biara biara. Pada kepemimpinanya ia berpegang teguh pada karakternya yang tertutup terhadap Peniten Rekolek tua. Keunggulan Mere Therese dan dewannya terletak pada bangunan kapel baru.Mere Therese sulit melepakskan kepemimpinanaya atas pensionet serta urusan duniawi yang penting dari kongregasi oleh sebab itu para suster yang lain mengharapkan agar Mere Therese dapat memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohani para suster para suster dan dewan penasihatnya mengatakan Mere Therese terlalu banyak mengadakan penghematan.Ia juga memeiliki karakter yang sulit untuk bekerja sama Ia sering menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan menanggung akibatnya sendiri Ia memiliki kemanusiaan sendiri meski ia seorang religius dan pimpinan yang begitu keras terhadap diri sendiri dalam mengayati kemiskinan bagi diri sendiri maka hal ini menimpa orang lain juga namun dibalik semua kekurangannya itu Ia memiliki pengorbanan yang besar .Mere Therese meninggal karena pengapuran pada tgl 23 November 1882 dalam usia 72 thn.selama 31 thn Ia mengemban tugas sebagai pemimpin 8 rumah cabang di dirikannya.pada awal kepemimpinanya Suster hanya 30 orang pada waktu ia meninggal ada 100 orang Suster sebagai anggota kongregasi.pensionat mengalami perubahan besar,pengajaran mengalami peningkatan dan kompleks bangunan di perluas.
Sejak 30 Juli 1868 SR
Bonaventura Van Dijk mendampingi Mere Therese untuk mendampingi kongregasi Ia
telah berfungsi sebagai pemimpin umum sejak 27 januari 1883-2 Sep1883.dalam
kepemimpinanaya Ia berbicara mengenai tujuan pengajaran,mengenai pentingnya
semangat pengorbanan dan sarana sarana untuk memudahkan,menyenangkan dan
berguna bagi pelayanan.Ia menunjukkan ciri khas atas keahliannya dalam pedagogi
atas pengajarannya pada para susternya.pada tgl 2 Sep Ia mengundurkan diri
sebagai pemimpin .pada tgl 5 Sep Ia berangkat ke rumah yatim piatu di
Steenbergen sebagi pimpinan. Ia meninggal pada usia 67 thn.
Pada tanggal 5 Sep
1883 sampai 30 Agustus 1902 Mere Odille
Claessen menjadi pemimpin umum, pada masa ini mereka juga memperingati 100 thn
perhimpunan dengan meriah pada masa
kepemimpinananya Ia mendirikan satu rumah cabang besar di Amsterdam,ketenaran
tertinggi ialah dengan mendirikan sekolah guru santo Antonius.
Pada tanggal 30
agustus1902 Mere Jeanne Willems mengatakan walaupun sudah berusia 66 tahun ia
siap memimpin kongregasi.Pada masa kepemimpinannya perkembangan jumlah religius
dalam tahun 1907 menuntut adanya penyesuain edisi baru dari peraturan dan
konstitusi.Mgr.P.Leitjen memberikan pengesahan pada tanggal 1 november 1907 dan
memberikan semangat kepada religius untuk melaksanakan dengan cermat konstitusi
yang telah diubah.Kekuatannya yang melemah memengaruhi kemampuannya sehingga
pada tanggal 1 september 1909 ia memohon pemberhentian dari tugasnya.Ia meninggal
di Dongen pada tanggal 15 desember 1915.
Kepemimpinan
Mere Jeanne digantikan oleh Mere Bertille van Helvoort yang berusia 52 tahun
mulai 1 September 1909 sampai 17 Agustus 1929.Dekret 12 Januari 1923 bagi
Kongregasi Dongen akan diakui sebagai satu keluarga Religius diosesan dengan
nama haru Peniten Rekolektin dari Ordo Ketiga Santo Fransiskus Asisi.
Konstitusi yang seluruhnya diubah diberi pengesahan oleh pimpinan rohani pada
Pesta Santa Clara 1925. Sejak 14 september 1920 telah mendapat tawaran untuk
pengiriman beberapa suster misionaris dalam wilayah misi saudara dina kapusin
medan, Sumatera. Sehingga ditetapkan bahwa keberangkatan para suster pada
tanggal 17 Maret 1923. Pada tanggal 17 Agustus 1929 ia turun dari kursi
kepemimpinannya. Pada masa kepemimpinannya jumlah anggota 400 orang, dan 14
rumah cabang dan satu stasi misi karya. Ia meninggal pada tanggal 2 Desember
1935 pada usia 78 tahun.
Mulai
17 agustus 1929 Mere Isabella Laane menerima tugas sebagai Pemimpin umum. Pada
masa kepemimpinannya hal yang berkembang dalam perhimpuna adalah pengajaran dan
Pendidikan, berkarya ditanah misi, dan juga di kongregasi Dongen ada perawatan orang
sakit. Juga adanya tempat yang nyaman untuk para suster yang sepuh dan sakit.
KARYA MISI
Perhimpunan
Peniten Rekolektin dari Roosendal dari Mere Marie Joseph pada tahun 1841
membentangkan hati dan tangan untuk menyeberang lautan menuju Curacao dan mereka
merupakan anggota biara Wanita yang pertama Nederland yang berkarya di tanah
misi. Para Suster Peniten rekolek diharapkan untuk bekerja di wilayah Misi
Kapusin di Sumatera dan diterima oleh Pater matthiah de Wolf OFM Cap. Pada
tanggal 1 April 1923 beberapa suster misionaris akan menyeberangi lautan. Pada
tanggal 17 Maret 1923 berangkatlah enam suster misionaris Dongen ke Misi
Sumatera. Antara lain adalah : Suater Edmunda Mulder dari Amsterdam, Suster
Hildegardis de Wit dari Amsterdam, Suster Salesia Hazelzet dari Amsterdam,
Suster Pudentiana Cuelenaere dari Aadenburg, Suster Laurentine Pijnenburg dari
Alphen, Suster Leo Pelkmans dari Teteringen.
Para
suster misionaris tiba di Medan pada tanggal 17 April dan tinggal sementara
disebuah rumah milik keluarga Cina di seberang gereja. Pada tanggal 2 Juli 1923
sekolah dibuka. Kemudian didirikan jugalah sekolah di Tanjung Balai yang dibuka
pada tahun 1926. Sehingga pada tanggal 11 Oktober 1924 Mere Bertille dan
dewannya siap untuk mengirim para suster lagi. Pada bulan Juli tahun 1924 Sr
Hildegardis mengajar Katekismus kepada 20 anak laki laki dan perempuan. Pada
tanggal 17 Desember Sr Rudolphine van den Brand ditunjuk sebagai misionaris.
Pada tanggal 8 April ia tiba di Medan dengan sesame susternya yaitu Sr Anselma
Oprins dan Sr Alphonsine Swagemakers. Para Misionaris baru menghadiri
perletakan batu pertama rumah suster dan asrama pada tanggal 17 Mei 1925. Pada
tanggal 2 januari pembukaan resmi dan tanggal 3 januari 1926 dilangsungkan
pemberkatan meriah. Pada 21 April 1926 tiga Misionaris tiba di Medan yaitu Sr
Eligia de Wolf, Sr Ursula van Dun, kemudian diikuti segerombolan misionaris
pada tanggal 26 September yaitu Sr Henriette Laane, Sr Jeanne van Happeren, Sr
Willibrorde Huyben dan Sr Theobalda Oprins. Juga Mere Bertille mengirim
Vikarisnya Mere Theresia Ruygrok sebagai utusan untuk mengadakan visitasi. Pada
tanggal 30 Oktober 1926 Sr Henriette, Sr Ursulan dan Sr Willibrorde harus
meninggalkan tempat kerjanya untuk memenuhi permintaan Pastor Marinus Spanjer untuk
membuka sekolah Holland Cina di Tnjung Balai. Pada tanggal 5 januari 1928 Sr
Josephine Ghuys dan Sr emilia van Dongen sampai di Medan untu membantu misi. Pada
saat itu Sr Theobalda meninggal. Ia tiba di sumatera pada tanggal 28 September
1926 dan meninggal pada tanggal 25 April 1929. Pada awal tahu 1930 Mere
Isabella Bersama anggota dewan, Sr Dominika Franken mengadakan visitasi ke
Indonesia dan membwa suster tenaga baru. Tanggal 5 mei 1932 datang jugalah para
suster tenaga baru. Tahun 1936 Mere Isabella mengadakan visitasi untuk kedua
kalinya. Juga ia berterima kasih atas karya mereka di Misi Padang yang sejak 21 Juli 1932 sudah
menjadi Vikariat Apostolik.
Atas desakan dari Vikarias apostolik Kalimantan Nederland, Mgr T van Valenberg OFM Cap, para suster Peniten Rekolektin Dongen menerima stasi Misi di Banjarmasin pada musim rontok 1937. Pada bulan April dan September 1973 enam suster sampai di stasi Banjarmasin yaiyu Sr Theobalda van Gool, Sr Richarde Kanters, Sr lamberta Beerens, Sr Lucretia Sinack, Sr Clementia Geerden dan Sr Josephine Jacoba. Pada bulan Januari 1940 masih ada dua suster dating lagi yaitu Sr Hedwigis Dinnewet dan sr Maria Petra Brouwers. Di Banjarmasin ada 7 suster misionaris dan di Medan ada 26 suser misionaris.
Keutamaan
keutamaan yang merupakan penopang hidup
mereka adalah KEMURNIAN HATI,KEMISKINAN
DI HADAPAN ALLAH,CINTA KASIH SATU SAMA LAIN DAN MATIRAGA.
Referensi :
-
Buku
Sebuah Harta Tersembunyi
-
Buku
SKPRD
-
Buku
Muder Yohana Yesus
