Rabu, 20 Mei 2026

“Saat Tangki Kendaraan Menggusur Perut dan Martabat Orang Papua”


"Kami bukan pencuri... kami menangis kepada-Mu Tuhan, kami lemah. Mengapa orang datang ke wilayah kami untuk menyiksa kami?"



Tangisan dari seorang perempuan adat Papua ini menceritakan luka mendalam di Papua Selatan. Ia menyaksikan rumah dan masa depan anak-cucunya dirusak oleh mesin-mesin besi yang besar. Ada rasa kecewa yang luar biasa; para penguasa yang harusnya mencintai rakyat justru mengirimkan alat-alat berat, dan para tentara yang harusnya melindungi mereka malah hadir seperti musuh yang mengancam kehidupan mereka. Atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN), alam Papua berubah menjadi perkebunan tebu dan sawit. Katanya, demi mengejar cadangan makanan dan energi masa depan. Namun, di lapangan, proyek ini justru memberi dampak moral yang mengerikan: terjadi persaingan sengit antara perut manusia yang lapar dengan tangki kendaraan yang haus bahan bakar. Proyek ini lupa bahwa martabat manusia jauh lebih berharga daripada kecanggihan teknologi mana pun.

Pemerintah membuat proyek bensin E10 (campuran tebu) dan biodiesel B50 (campuran sawit). Proyek teknologi ini terdengar sangat keren dan ramah lingkungan. Namun, di balik itu semua, ada kenyataan yang tidak adil: kebutuhan bahan bakar ini meningkat karena bertambahnya kekayaan orang-orang kaya di kota besar yang mengoleksi banyak kendaraan pribadi. Hidup mereka yang serba mewah membuat tangki-tangki mesin menjadi semakin haus dan membutuhkan energi yang tidak ada habisnya. Untuk memenuhi gaya hidup ini, jutaan hektar hutan perawan di Papua akhirnya dikorbankan.

Ini sangat bertentangan dengan pesan Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si' bahwa kreativitas manusia dalam menciptakan teknologi seharusnya dipakai untuk menolong dan melayani sesama, bukan malah mengorbankan manusia. Di Papua, yang terjadi justru sebaliknya. Hutan yang selama ratusan tahun menjadi "supermarket alami" tempat masyarakat adat mencari makan dan minum secara gratis, kini digusur demi kebutuhan mesin.

Di sini terjadi kontroversi dan ketimpangan yang sangat nyata: ada kelompok orang yang bisa hidup enak-enakan menikmati fasilitas teknologi dan kemudahan transportasi di kota besar, sementara di sisi lain, ada masyarakat adat yang dipaksa menjadi korban yang kehilangan segalanya. Inilah yang dimaksudkan oleh Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si', bahwa dampak buruk dari kerusakan alam dan keserakahan teknologi selalu dirasakan pertama kali oleh mereka, orang-orang yang kecil, miskin, dan lemah. Teknologi telah berubah menjadi alat penindas bagi manusia sendiri.

Dulu, masyarakat adat bisa dengan mudah menyegarkan dahaga dengan langsung meminum air sungai yang jernih dari alam tanpa perlu repot memasaknya terlebih dahulu. Tapi kini, semua itu telah berubah menjadi air yang kotor dan tidak bisa lagi langsung diminum. Mereka yang dulunya tidak perlu memasak air, sekarang terpaksa harus memasak air karena teknologi yang berkuasa di atas tanah mereka. Teknologi drone terbang itu menyemprotkan zat kimia berbahaya di atas perkebunan, sehingga cairan kimia itu mengalir meracuni sungai serta rawa tempat warga mencari minum. Hak manusia untuk menikmati air bersih yang jernih dari alam telah dirampas demi kelancaran teknologi industri.

Pemerintah juga memaksa mencetak sawah baru agar orang Papua beralih makan beras. Sehingga pohon-pohon sagu yang menjadi sumber kehidupan mereka dimusnahkan secara massal. Padahal bagi mereka, pohon sagu adalah identitas diri yang dianggap seperti orang tua sendiri. Ketika sagu dihancurkan, mereka kehilangan jati diri dan kehilangan budaya dan akhirnya kelaparan di tanah sendiri. Hal ini membuat masyarakat adat merasa dikhianati karena lambang Merah Putih gagal melindungi mereka.

Di hadapan kerusakan itu, mereka berada dalam keputusasaan karena tidak tahu lagi harus mencari perlindungan ke mana. Ketika negara yang seharusnya mengayomi ternyata tak bisa lagi melindungi, masyarakat adat akhirnya memilih berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka menangis dan membawa luka hati ini dalam doa, memohon keadilan langsung dari Sang Pencipta.

Papua bukan tanah kosong. Menggusur hutan tempat tinggal masyarakat adat demi industri bahan bakar kota adalah kesalahan moral yang besar. Seperti pesan Paus Fransiskus dalam Laudato Si', sebuah teknologi kehilangan maknanya jika ia menghancurkan martabat manusia demi kenyamanan segelintir orang kaya. Ketahanan negara yang sejati tidak akan pernah lahir dari tangisan masyarakat adat yang kelaparan, keracunan air sungai, dan terasing di tanah airnya sendiri.

Oleh karena itu, mari kita hentikan perilaku yang egois ini. Sudah saatnya kita mendesak para penguasa untuk mengembalikan esensi teknologi sebagai alat yang melayani kemanusiaan, bukan penindas martabat sesama. Mari kita bersuara dan berdiri bersama masyarakat adat Papua, menyuarakan bahwa tidak ada lagi perut yang kelaparan demi tangki kendaraan yang berjalan, dan tidak ada lagi tangisan rakyat kecil yang diabaikan atas nama kemajuan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ego Sukuisme? Ah, Menjadi Perpaduan Itu Jauh Lebih Seru!

  Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam rumah ki...