"Kami bukan pencuri...
kami menangis kepada-Mu Tuhan, kami lemah. Mengapa orang datang ke wilayah kami
untuk menyiksa kami?"
Pemerintah membuat proyek bensin
E10 (campuran tebu) dan biodiesel B50 (campuran sawit). Proyek teknologi ini
terdengar sangat keren dan ramah lingkungan. Namun, di balik itu semua, ada
kenyataan yang tidak adil: kebutuhan bahan bakar ini meningkat karena
bertambahnya kekayaan orang-orang kaya di kota besar yang mengoleksi banyak
kendaraan pribadi. Hidup mereka yang serba mewah membuat tangki-tangki mesin
menjadi semakin haus dan membutuhkan energi yang tidak ada habisnya. Untuk
memenuhi gaya hidup ini, jutaan hektar hutan perawan di Papua akhirnya
dikorbankan.
Ini sangat bertentangan dengan
pesan Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si' bahwa kreativitas
manusia dalam menciptakan teknologi seharusnya dipakai untuk menolong dan
melayani sesama, bukan malah mengorbankan manusia. Di Papua, yang terjadi
justru sebaliknya. Hutan yang selama ratusan tahun menjadi "supermarket
alami" tempat masyarakat adat mencari makan dan minum secara gratis, kini
digusur demi kebutuhan mesin.
Di sini terjadi kontroversi dan
ketimpangan yang sangat nyata: ada kelompok orang yang bisa hidup enak-enakan
menikmati fasilitas teknologi dan kemudahan transportasi di kota besar,
sementara di sisi lain, ada masyarakat adat yang dipaksa menjadi korban yang
kehilangan segalanya. Inilah yang dimaksudkan oleh Paus Fransiskus dalam
dokumen Laudato Si', bahwa dampak buruk dari kerusakan alam dan
keserakahan teknologi selalu dirasakan pertama kali oleh mereka, orang-orang
yang kecil, miskin, dan lemah. Teknologi telah berubah menjadi alat penindas
bagi manusia sendiri.
Dulu, masyarakat adat bisa
dengan mudah menyegarkan dahaga dengan langsung meminum air sungai yang jernih
dari alam tanpa perlu repot memasaknya terlebih dahulu. Tapi kini, semua itu
telah berubah menjadi air yang kotor dan tidak bisa lagi langsung diminum.
Mereka yang dulunya tidak perlu memasak air, sekarang terpaksa harus memasak
air karena teknologi yang berkuasa di atas tanah mereka. Teknologi drone
terbang itu menyemprotkan zat kimia berbahaya di atas perkebunan, sehingga
cairan kimia itu mengalir meracuni sungai serta rawa tempat warga mencari
minum. Hak manusia untuk menikmati air bersih yang jernih dari alam telah
dirampas demi kelancaran teknologi industri.
Pemerintah juga memaksa mencetak
sawah baru agar orang Papua beralih makan beras. Sehingga pohon-pohon sagu yang
menjadi sumber kehidupan mereka dimusnahkan secara massal. Padahal bagi mereka,
pohon sagu adalah identitas diri yang dianggap seperti orang tua sendiri.
Ketika sagu dihancurkan, mereka kehilangan jati diri dan kehilangan budaya dan
akhirnya kelaparan di tanah sendiri. Hal ini membuat masyarakat adat merasa
dikhianati karena lambang Merah Putih gagal melindungi mereka.
Di hadapan kerusakan itu, mereka
berada dalam keputusasaan karena tidak tahu lagi harus mencari perlindungan ke
mana. Ketika negara yang seharusnya mengayomi ternyata tak bisa lagi
melindungi, masyarakat adat akhirnya memilih berserah sepenuhnya kepada Tuhan.
Mereka menangis dan membawa luka hati ini dalam doa, memohon keadilan langsung
dari Sang Pencipta.
Papua bukan tanah kosong.
Menggusur hutan tempat tinggal masyarakat adat demi industri bahan bakar kota
adalah kesalahan moral yang besar. Seperti pesan Paus Fransiskus dalam Laudato
Si', sebuah teknologi kehilangan maknanya jika ia menghancurkan martabat
manusia demi kenyamanan segelintir orang kaya. Ketahanan negara yang sejati
tidak akan pernah lahir dari tangisan masyarakat adat yang kelaparan, keracunan
air sungai, dan terasing di tanah airnya sendiri.
Oleh karena itu, mari kita
hentikan perilaku yang egois ini. Sudah saatnya kita mendesak para penguasa
untuk mengembalikan esensi teknologi sebagai alat yang melayani kemanusiaan,
bukan penindas martabat sesama. Mari kita bersuara dan berdiri bersama
masyarakat adat Papua, menyuarakan bahwa tidak ada lagi perut yang kelaparan
demi tangki kendaraan yang berjalan, dan tidak ada lagi tangisan rakyat kecil
yang diabaikan atas nama kemajuan dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar