Senin, 25 Mei 2026

Ego Sukuisme? Ah, Menjadi Perpaduan Itu Jauh Lebih Seru!

 

Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam rumah kita sendiri? Apalagi kalau dalam satu keluarga ada perbedaan latar belakang atau cara pandang, kadang bawaannya jadi gampang kaku karena terjebak sama ego suku atau sukuisme kecil-kecilan. Padahal, kalau kita mau buka hati sedikit aja dan merangkul perbedaan itu, rasanya bakal seru banget, lho!

Bagi aku pribadi, lahir dari perkawinan dua suku yang berbeda—Batak Toba dan Batak Karo—bukanlah sebuah kerumitan, melainkan salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Padahal kalau dipikir-pikir, walaupun sama-sama menyandang nama "Batak", Toba dan Karo itu punya dunia yang jauh berbeda, lho. Mulai dari logat bicara, karakter, marga, sampai urusan adatnya punya keunikan masing-masing yang bahkan sering kali bertolak belakang. Tapi justru lewat perpaduan inilah, aku tidak hanya mewarisi darah, tetapi juga memenangkan sebuah kombinasi karakter yang membuatku bangga jadi diri sendiri sampai sekarang.

Bayangkan saja dinamika di dalam rumah kami. Di satu sisi, ada ketangguhan, ketegasan, dan keterbukaan khas Toba yang mengalir dari Mamak. Mamak itu orangnya sangat tegas. Kalau aku membuat kesalahan, tatapan matanya yang tajam sudah cukup untuk mengintimidasi dan membuat badanku kaku seketika, sampai mulutku bisu tak bisa membela diri. Bahkan soal uang jajan pun, urusannya harus jelas: mau dipakai ke mana, jumlahnya berapa, dan untuk apa.

Salah satu momen yang paling kuingat adalah ketika aku bersikeras ingin masuk asrama. Begitu diizinkan, ternyata belum sampai dua bulan aku sudah menangis sejadi-jadinya di depan Mamak, meminta pulang dengan seribu alasan sampai air mataku habis dan mulutku lelah berbicara. Tapi tahu apa tanggapan Mamak? Beliau hanya berkata dingin, "Ayo ambil barangmu. Keluar dari asrama berarti berhenti sekolah. Kamu yang memilih tinggal di sini, maka kamu juga yang harus bertanggung jawab atas pilihanmu."

Namun di sisi lain, ketegasan Mamak itu berpadu sempurna dengan kelembutan yang berprinsip, kehati-hatian, dan rasa kekeluargaan yang erat khas Karo dari Bapak. Bapak adalah tempat pelarianku. Kalau Mamak sudah mulai memarahiku, aku akan langsung berlari berlindung di balik badan Bapak, dan Bapak pasti langsung membela kami. Begitu juga kalau uang jajan dirasa kurang; aku cukup menatap Bapak dengan wajah paling melas, dan uang jajan kami pun langsung ditambah.

Bahkan saat momen asrama itu, Bapak menunjukkan sisi lembutnya yang sangat kontras dengan Mamak. Berbeda dengan Mamak yang begitu tegar dan dingin, Bapak justru orang yang paling mudah menangis. Saat melepas aku pergi ke asrama, Bapak menangis sejadi-jadinya sambil memelukku erat karena berat melepaskan anaknya jauh dari rumah. Rumah kami akhirnya seperti panggung di mana dua jenis gondang bertalu bersama. Alih-alih saling tabrakan, perbedaan karakter yang kuat antara Toba dan Karo itu justru berpadu menjadi sebuah harmoni yang sangat unik.

Sejak kecil, berada di persimpangan dua budaya ini secara tidak langsung menempahku menjadi pribadi yang adaptif. Aku tidak dibesarkan untuk melihat dunia secara kotak-kotak. Karena terbiasa menjembatani perbedaan di dalam rumah, secara alami aku tumbuh dengan rasa solidaritas yang tinggi dan kemampuan bergaul yang luwes. Panggil aku ke lingkaran mana saja, aku akan dengan mudah melebur di sana.

Sangat disayangkan jika masih ada orang yang terjebak dalam batas-batas sukuisme yang kaku, seolah satu suku lebih unggul dari yang lain. Padahal, menjadi perpaduan itu sangat menyenangkan! Kita jadi punya ruang pandang yang lebih luas dan hati yang lebih lapang untuk menerima orang lain.

Perpaduan ini juga menumbuhkan ketangguhan dan ketegasan mental di dalam diriku. Pengaruh dari kedua suku yang sama-sama pekerja keras ini membentukku menjadi pribadi yang bermental kuat, berani menyuarakan pendapat, dan memiliki daya juang saat menghadapi tantangan. Selain itu, aku juga belajar bagaimana menyeimbangkan diri: kapan harus bersikap tegas dan blak-blakan khas gaya Toba, dan kapan harus membaca situasi dengan hati-hati serta penuh rasa hormat khas gaya Karo.

Makna terdalam dari menjadi anak blasteran ini akhirnya mengajariku bahwa darah yang mengalir di tubuhku bukan sekadar warisan biologis, melainkan sebuah simbol perdamaian. Jika di dalam diriku saja dua suku yang berbeda bisa menyatu dalam satu detak jantung yang sama, lalu mengapa kita di luar sana harus saling menjauh hanya karena perbedaan baju adat? Perbedaan di dalam rumahku tidak pernah memecah belah, justru dari sanalah aku belajar arti toleransi yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, bagi teman-teman yang juga lahir di tengah-tengah perpaduan budaya atau perbedaan apa pun di dalam keluarga, mari kita berdiri dengan tegak dan bangga. Jangan pernah merasa minder atau menganggap perbedaan itu sebagai sebuah kerumitan. Kita harus bangga dengan dua dunia yang menyatu di dalam diri kita, karena justru dari sanalah kita dibentuk menjadi pribadi yang sangat unik. Kita memiliki kapasitas hati yang lebih besar untuk memahami berbagai sudut pandang, sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Aku bangga menjadi anak blasteran Toba dan Karo. Dari perpaduan ini, aku belajar bahwa manusia tidak diciptakan untuk seragam, melainkan untuk saling melengkapi. Dan bagiku, solidaritas serta kemudahan dalam merangkul sesama bukanlah sesuatu yang harus kupelajari lewat buku—ia adalah warisan yang sudah mengalir di dalam nadiku sejak aku dilahirkan.

Sabtu, 23 Mei 2026

Prasasti Jagung di Balik Pintu

Hai teman-teman, aku ingin bercerita mengenai prasasti bercak jagung di balik pintu rumahku. Mendengarnya pasti terasa agak aneh, kan? Karena biasanya prasasti itu adalah barang antik bagi banyak orang, mungkin seperti patung, batu berukir, atau benda bersejarah lainnya. Tapi kali ini, aku akan menceritakan asal-mula prasasti yang sangat berharga bagi kami sekeluarga.

Sebagai anak kelima dari enam bersaudara, kata "sepi" tidak pernah ada dalam kamus rumah kami. Aku tumbuh di dalam rumah kecil yang selalu ramai. Bayangkan saja, dengan adanya dua kakak, dua abang, dan satu adik perempuan yang selalu menemani di rumah, suasana tidak pernah benar-benar sunyi. Bisa dikatakan aku nyaris menjadi anak bungsu. Tapi apa boleh buat, dengan kehadiran adik perempuanku, statusku bergeser menjadi anak tengah yang paling kecil.

Tapi jangan salah, kedua orang tuaku memberikan perhatian yang hampir sama besarnya kepadaku dan adik bungsuku. Terkadang aku sedikit tidak suka kalau Mamak memperlakukan kami seperti anak kembar. Mulai dari baju, sepatu, sampai ikat rambut selalu disamakan. Pernah suatu hari ketika mau berangkat ke gereja, Mamak menguncir rambutku dan rambut adikku dengan model yang persis sama. Karena merasa gengsi, jahatnya aku saat itu, aku malah menyuruh Mamak untuk mengganti model ikatan rambutku.

Meskipun dalam urusan penampilan sering disamakan, kalau dalam hal tanggung jawab pekerjaan rumah tentu saja berbeda. Sebagai yang lebih tua, tugasku adalah mencuci piring, sementara adik bungsuku kebagian tugas yang lebih ringan, yaitu menyusun piring-piring yang sudah bersih. Setiap hari suasana rumah memang selalu diwarnai campuran antara tawa keluarga dan perdebatan mengenai urusan-urusan sepele seperti itu. Keributan sudah menjadi musik dan makanan sehari-hari bagi kami.

Nah, awal mula munculnya bercak jagung di pintu rumah kami terjadi pada suatu sore setelah hujan reda. Bisa dibayangkan, dinginnya sisa hujan saat itu masih sangat terasa menembus pori-pori kulit. Apalagi kampung halamanku terletak tepat di bawah kaki gunung; kabun-kabun kelabu dan hawa dingin yang turun membuat suasana jadi berkali-kali lipat lebih menusuk. Udara sedingin itu sukses membuat perut kami semua berteriak kelaparan secara bersamaan.

Di tengah kepungan hawa dingin itulah, Mamak melangkah keluar dari dapur membawa sebuah wadah plastik besar. Di dalamnya, mengepul asap putih yang membawa aroma manis dari jagung rebus hangat yang baru saja matang. Aroma itu seolah menjadi peluit start bagi kami berenam. Kami langsung menyerbu meja makan, saling sikut untuk duduk di kursi terdekat.

Suasana meja makan mendadak riuh rendah. Suara kunyahan dan tawa bersahutan, persis seperti sedang mengikuti perlombaan mengunyah jagung. Kami makan dengan sangat lahap, menikmati kehangatan yang menjalar di dalam perut kami yang tadinya kosong. Namun, setelah semua selesai menghabiskan jatah masing-masing, mata kami serentak tertuju pada dasar wadah. Ternyata, masih tersisa satu buah jagung di sana. Kuning, gemuk, dan masih mengepulkan uap hangat.

Seketika, atmosfer di ruangan berubah total. Sisa jagung itu seperti mangsa terakhir yang dilemparkan ke tengah kandang serigala. Kami yang tadinya tertawa bersama, tiba-tiba saling lirik dengan tatapan penuh selidik.

"Ini bagianku! Tadi potongan punyaku paling kecil!" abangku memulai, tangannya sudah bergerak maju. "Enggak bisa! Aku masih lapar, Kak!" sahut abang yang satu lagi, menepis tangan pertamanya. "Aku yang paling kecil di antara abang, harusnya aku yang dapat!" aku ikut berteriak, tidak mau kalah, lalu menyusupkan tanganku di sela-sela cengkeraman mereka.

Rumah yang tadinya sudah bising menjadi makin riuh. Kami saling tarik, saling dorong, dan adu mulut tanpa ada yang mau mengalah sedikit pun. Wadah plastik itu bergeser liar di atas meja. Di tengah kegaduhan yang egois itu, adik bungsu perempuanku yang badannya paling kecil terdorong ke belakang. Ia terjepit di sudut meja, air matanya mulai luruh, lalu menangis kencang karena kalah saing dan terabaikan oleh kakak-kakaknya. Namun, karena sudah dibutakan oleh keinginan memperebutkan sebutir jagung, kami semua menutup telinga dan mengabaikan tangisannya. Kami terus ribut.

Sampai sebuah langkah kaki yang berat dan tegas terdengar berderak di atas lantai.

"Cukup!"

Satu kata itu meluncur dengan nada bariton yang sangat berat. Suara Bapak. Seketika itu juga, seperti ada remote yang memencet tombol pause, kami semua langsung terdiam dan membeku. Tangan-tangan yang tadinya saling cengkeram di atas sisa jagung langsung terlepas dan turun lemas.

Bapak sudah berdiri di ambang pintu. Aku memberanikan diri melirik wajahnya. Raut wajah Bapak memerah, napasnya terdengar berat menahan amarah yang sangat pekat. Keheningan di ruangan itu mendadak jadi begitu mencekam, hanya menyisakan suara sesenggukan adikku yang masih menangis.

Bapak melangkah maju perlahan. Langkahnya terasa begitu intimidatif. Beliau mengulurkan tangan yang legam, lalu menjangkau jagung kuning yang kami perebutkan tadi. Saat Bapak mengambilnya, aku sempat bergumam dalam hati dengan penuh harap, “Pasti Bapak mau memberikan jagung ini kepadaku atau ke adik, karena kami anak yang paling kecil.” Kami semua menunduk, menanti keputusan dari tangan Bapak.

Namun, dugaan kami salah besar. Bapak tidak memotong jagung itu, tidak pula memakannya.

Bapak memundurkan kakinya satu langkah, mengambil ancang-ancang yang kokoh, lalu dengan sentakan lengan yang penuh amarah, beliau melemparkan jagung panas itu kuat-kuat ke arah pintu depan.

Bugh!

Suara benturannya terdengar begitu keras dan solid, menggema di dalam rumah kami yang mendadak sepi. Jagung itu menghantam tepat di tengah-tengah daun pintu kayu sebelum akhirnya jatuh tercampak ke lantai.

Bisa dibayangkan, hantaman jagung panas yang lunak itu meninggalkan bekas yang mencolok. Bercak kuning basah melebar di sana, membentuk pola acak menyerupai bintang atau matahari yang tergambar jelas di atas pintu kami yang berwarna cokelat tua. Melihat kemarahan Bapak yang meledak lewat lemparan itu, aku dan adikku langsung menangis sejadi-jadinya karena ketakutan. Abang dan kakakku hanya bisa terpaku menatap lantai, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun.

Sekarang, setiap kali kami pulang kampung dan berkumpul kembali di meja makan yang sama, pandangan kami pasti akan kompak tertuju ke arah pintu depan. Memori yang dulunya terasa menakutkan dan membuat menangis, kini telah melunak seiring waktu. Cerita lemparan jagung Bapak selalu menjadi topik utama yang memicu tawa bersama hingga air mata menetes. Sebuah bercak di pintu yang tidak akan pernah kami hapus, karena dari sanalah kami selalu diingatkan untuk menurunkan ego dan selalu menjaga kerukunan persaudaraan.

Lewat kisah ini, aku belajar—dan mungkin kita semua perlu diingatkan—bahwa baik di dalam keluarga, komunitas, maupun lingkungan apa pun, hal-hal kecil seperti pembagian tugas, materi, atau perbedaan pendapat sering kali memicu gesekan. Namun, tidak ada ego pribadi yang layak ditukar dengan sebuah kebersamaan.

Kerukunan itulah prasasti yang sesungguhnya; sebuah warisan tak ternilai yang harus selalu kita jaga di mana pun kita berada. Sebab, mengalah demi kebaikan bersama bukan berarti kita kalah, melainkan cara kita menghargai ikatan yang ada. Agar saat kita melangkah jauh nanti, kita selalu tahu cara untuk kembali duduk bersama, menurunkan ego, dan saling merangkul sebagai sesama.

Rabu, 20 Mei 2026

“Saat Tangki Kendaraan Menggusur Perut dan Martabat Orang Papua”


"Kami bukan pencuri... kami menangis kepada-Mu Tuhan, kami lemah. Mengapa orang datang ke wilayah kami untuk menyiksa kami?"



Tangisan dari seorang perempuan adat Papua ini menceritakan luka mendalam di Papua Selatan. Ia menyaksikan rumah dan masa depan anak-cucunya dirusak oleh mesin-mesin besi yang besar. Ada rasa kecewa yang luar biasa; para penguasa yang harusnya mencintai rakyat justru mengirimkan alat-alat berat, dan para tentara yang harusnya melindungi mereka malah hadir seperti musuh yang mengancam kehidupan mereka. Atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN), alam Papua berubah menjadi perkebunan tebu dan sawit. Katanya, demi mengejar cadangan makanan dan energi masa depan. Namun, di lapangan, proyek ini justru memberi dampak moral yang mengerikan: terjadi persaingan sengit antara perut manusia yang lapar dengan tangki kendaraan yang haus bahan bakar. Proyek ini lupa bahwa martabat manusia jauh lebih berharga daripada kecanggihan teknologi mana pun.

Pemerintah membuat proyek bensin E10 (campuran tebu) dan biodiesel B50 (campuran sawit). Proyek teknologi ini terdengar sangat keren dan ramah lingkungan. Namun, di balik itu semua, ada kenyataan yang tidak adil: kebutuhan bahan bakar ini meningkat karena bertambahnya kekayaan orang-orang kaya di kota besar yang mengoleksi banyak kendaraan pribadi. Hidup mereka yang serba mewah membuat tangki-tangki mesin menjadi semakin haus dan membutuhkan energi yang tidak ada habisnya. Untuk memenuhi gaya hidup ini, jutaan hektar hutan perawan di Papua akhirnya dikorbankan.

Ini sangat bertentangan dengan pesan Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si' bahwa kreativitas manusia dalam menciptakan teknologi seharusnya dipakai untuk menolong dan melayani sesama, bukan malah mengorbankan manusia. Di Papua, yang terjadi justru sebaliknya. Hutan yang selama ratusan tahun menjadi "supermarket alami" tempat masyarakat adat mencari makan dan minum secara gratis, kini digusur demi kebutuhan mesin.

Di sini terjadi kontroversi dan ketimpangan yang sangat nyata: ada kelompok orang yang bisa hidup enak-enakan menikmati fasilitas teknologi dan kemudahan transportasi di kota besar, sementara di sisi lain, ada masyarakat adat yang dipaksa menjadi korban yang kehilangan segalanya. Inilah yang dimaksudkan oleh Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si', bahwa dampak buruk dari kerusakan alam dan keserakahan teknologi selalu dirasakan pertama kali oleh mereka, orang-orang yang kecil, miskin, dan lemah. Teknologi telah berubah menjadi alat penindas bagi manusia sendiri.

Dulu, masyarakat adat bisa dengan mudah menyegarkan dahaga dengan langsung meminum air sungai yang jernih dari alam tanpa perlu repot memasaknya terlebih dahulu. Tapi kini, semua itu telah berubah menjadi air yang kotor dan tidak bisa lagi langsung diminum. Mereka yang dulunya tidak perlu memasak air, sekarang terpaksa harus memasak air karena teknologi yang berkuasa di atas tanah mereka. Teknologi drone terbang itu menyemprotkan zat kimia berbahaya di atas perkebunan, sehingga cairan kimia itu mengalir meracuni sungai serta rawa tempat warga mencari minum. Hak manusia untuk menikmati air bersih yang jernih dari alam telah dirampas demi kelancaran teknologi industri.

Pemerintah juga memaksa mencetak sawah baru agar orang Papua beralih makan beras. Sehingga pohon-pohon sagu yang menjadi sumber kehidupan mereka dimusnahkan secara massal. Padahal bagi mereka, pohon sagu adalah identitas diri yang dianggap seperti orang tua sendiri. Ketika sagu dihancurkan, mereka kehilangan jati diri dan kehilangan budaya dan akhirnya kelaparan di tanah sendiri. Hal ini membuat masyarakat adat merasa dikhianati karena lambang Merah Putih gagal melindungi mereka.

Di hadapan kerusakan itu, mereka berada dalam keputusasaan karena tidak tahu lagi harus mencari perlindungan ke mana. Ketika negara yang seharusnya mengayomi ternyata tak bisa lagi melindungi, masyarakat adat akhirnya memilih berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka menangis dan membawa luka hati ini dalam doa, memohon keadilan langsung dari Sang Pencipta.

Papua bukan tanah kosong. Menggusur hutan tempat tinggal masyarakat adat demi industri bahan bakar kota adalah kesalahan moral yang besar. Seperti pesan Paus Fransiskus dalam Laudato Si', sebuah teknologi kehilangan maknanya jika ia menghancurkan martabat manusia demi kenyamanan segelintir orang kaya. Ketahanan negara yang sejati tidak akan pernah lahir dari tangisan masyarakat adat yang kelaparan, keracunan air sungai, dan terasing di tanah airnya sendiri.

Oleh karena itu, mari kita hentikan perilaku yang egois ini. Sudah saatnya kita mendesak para penguasa untuk mengembalikan esensi teknologi sebagai alat yang melayani kemanusiaan, bukan penindas martabat sesama. Mari kita bersuara dan berdiri bersama masyarakat adat Papua, menyuarakan bahwa tidak ada lagi perut yang kelaparan demi tangki kendaraan yang berjalan, dan tidak ada lagi tangisan rakyat kecil yang diabaikan atas nama kemajuan dunia.

Ego Sukuisme? Ah, Menjadi Perpaduan Itu Jauh Lebih Seru!

  Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam rumah ki...