Sabtu, 23 Mei 2026

Prasasti Jagung di Balik Pintu

Hai teman-teman, aku ingin bercerita mengenai prasasti bercak jagung di balik pintu rumahku. Mendengarnya pasti terasa agak aneh, kan? Karena biasanya prasasti itu adalah barang antik bagi banyak orang, mungkin seperti patung, batu berukir, atau benda bersejarah lainnya. Tapi kali ini, aku akan menceritakan asal-mula prasasti yang sangat berharga bagi kami sekeluarga.

Sebagai anak kelima dari enam bersaudara, kata "sepi" tidak pernah ada dalam kamus rumah kami. Aku tumbuh di dalam rumah kecil yang selalu ramai. Bayangkan saja, dengan adanya dua kakak, dua abang, dan satu adik perempuan yang selalu menemani di rumah, suasana tidak pernah benar-benar sunyi. Bisa dikatakan aku nyaris menjadi anak bungsu. Tapi apa boleh buat, dengan kehadiran adik perempuanku, statusku bergeser menjadi anak tengah yang paling kecil.

Tapi jangan salah, kedua orang tuaku memberikan perhatian yang hampir sama besarnya kepadaku dan adik bungsuku. Terkadang aku sedikit tidak suka kalau Mamak memperlakukan kami seperti anak kembar. Mulai dari baju, sepatu, sampai ikat rambut selalu disamakan. Pernah suatu hari ketika mau berangkat ke gereja, Mamak menguncir rambutku dan rambut adikku dengan model yang persis sama. Karena merasa gengsi, jahatnya aku saat itu, aku malah menyuruh Mamak untuk mengganti model ikatan rambutku.

Meskipun dalam urusan penampilan sering disamakan, kalau dalam hal tanggung jawab pekerjaan rumah tentu saja berbeda. Sebagai yang lebih tua, tugasku adalah mencuci piring, sementara adik bungsuku kebagian tugas yang lebih ringan, yaitu menyusun piring-piring yang sudah bersih. Setiap hari suasana rumah memang selalu diwarnai campuran antara tawa keluarga dan perdebatan mengenai urusan-urusan sepele seperti itu. Keributan sudah menjadi musik dan makanan sehari-hari bagi kami.

Nah, awal mula munculnya bercak jagung di pintu rumah kami terjadi pada suatu sore setelah hujan reda. Bisa dibayangkan, dinginnya sisa hujan saat itu masih sangat terasa menembus pori-pori kulit. Apalagi kampung halamanku terletak tepat di bawah kaki gunung; kabun-kabun kelabu dan hawa dingin yang turun membuat suasana jadi berkali-kali lipat lebih menusuk. Udara sedingin itu sukses membuat perut kami semua berteriak kelaparan secara bersamaan.

Di tengah kepungan hawa dingin itulah, Mamak melangkah keluar dari dapur membawa sebuah wadah plastik besar. Di dalamnya, mengepul asap putih yang membawa aroma manis dari jagung rebus hangat yang baru saja matang. Aroma itu seolah menjadi peluit start bagi kami berenam. Kami langsung menyerbu meja makan, saling sikut untuk duduk di kursi terdekat.

Suasana meja makan mendadak riuh rendah. Suara kunyahan dan tawa bersahutan, persis seperti sedang mengikuti perlombaan mengunyah jagung. Kami makan dengan sangat lahap, menikmati kehangatan yang menjalar di dalam perut kami yang tadinya kosong. Namun, setelah semua selesai menghabiskan jatah masing-masing, mata kami serentak tertuju pada dasar wadah. Ternyata, masih tersisa satu buah jagung di sana. Kuning, gemuk, dan masih mengepulkan uap hangat.

Seketika, atmosfer di ruangan berubah total. Sisa jagung itu seperti mangsa terakhir yang dilemparkan ke tengah kandang serigala. Kami yang tadinya tertawa bersama, tiba-tiba saling lirik dengan tatapan penuh selidik.

"Ini bagianku! Tadi potongan punyaku paling kecil!" abangku memulai, tangannya sudah bergerak maju. "Enggak bisa! Aku masih lapar, Kak!" sahut abang yang satu lagi, menepis tangan pertamanya. "Aku yang paling kecil di antara abang, harusnya aku yang dapat!" aku ikut berteriak, tidak mau kalah, lalu menyusupkan tanganku di sela-sela cengkeraman mereka.

Rumah yang tadinya sudah bising menjadi makin riuh. Kami saling tarik, saling dorong, dan adu mulut tanpa ada yang mau mengalah sedikit pun. Wadah plastik itu bergeser liar di atas meja. Di tengah kegaduhan yang egois itu, adik bungsu perempuanku yang badannya paling kecil terdorong ke belakang. Ia terjepit di sudut meja, air matanya mulai luruh, lalu menangis kencang karena kalah saing dan terabaikan oleh kakak-kakaknya. Namun, karena sudah dibutakan oleh keinginan memperebutkan sebutir jagung, kami semua menutup telinga dan mengabaikan tangisannya. Kami terus ribut.

Sampai sebuah langkah kaki yang berat dan tegas terdengar berderak di atas lantai.

"Cukup!"

Satu kata itu meluncur dengan nada bariton yang sangat berat. Suara Bapak. Seketika itu juga, seperti ada remote yang memencet tombol pause, kami semua langsung terdiam dan membeku. Tangan-tangan yang tadinya saling cengkeram di atas sisa jagung langsung terlepas dan turun lemas.

Bapak sudah berdiri di ambang pintu. Aku memberanikan diri melirik wajahnya. Raut wajah Bapak memerah, napasnya terdengar berat menahan amarah yang sangat pekat. Keheningan di ruangan itu mendadak jadi begitu mencekam, hanya menyisakan suara sesenggukan adikku yang masih menangis.

Bapak melangkah maju perlahan. Langkahnya terasa begitu intimidatif. Beliau mengulurkan tangan yang legam, lalu menjangkau jagung kuning yang kami perebutkan tadi. Saat Bapak mengambilnya, aku sempat bergumam dalam hati dengan penuh harap, “Pasti Bapak mau memberikan jagung ini kepadaku atau ke adik, karena kami anak yang paling kecil.” Kami semua menunduk, menanti keputusan dari tangan Bapak.

Namun, dugaan kami salah besar. Bapak tidak memotong jagung itu, tidak pula memakannya.

Bapak memundurkan kakinya satu langkah, mengambil ancang-ancang yang kokoh, lalu dengan sentakan lengan yang penuh amarah, beliau melemparkan jagung panas itu kuat-kuat ke arah pintu depan.

Bugh!

Suara benturannya terdengar begitu keras dan solid, menggema di dalam rumah kami yang mendadak sepi. Jagung itu menghantam tepat di tengah-tengah daun pintu kayu sebelum akhirnya jatuh tercampak ke lantai.

Bisa dibayangkan, hantaman jagung panas yang lunak itu meninggalkan bekas yang mencolok. Bercak kuning basah melebar di sana, membentuk pola acak menyerupai bintang atau matahari yang tergambar jelas di atas pintu kami yang berwarna cokelat tua. Melihat kemarahan Bapak yang meledak lewat lemparan itu, aku dan adikku langsung menangis sejadi-jadinya karena ketakutan. Abang dan kakakku hanya bisa terpaku menatap lantai, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun.

Sekarang, setiap kali kami pulang kampung dan berkumpul kembali di meja makan yang sama, pandangan kami pasti akan kompak tertuju ke arah pintu depan. Memori yang dulunya terasa menakutkan dan membuat menangis, kini telah melunak seiring waktu. Cerita lemparan jagung Bapak selalu menjadi topik utama yang memicu tawa bersama hingga air mata menetes. Sebuah bercak di pintu yang tidak akan pernah kami hapus, karena dari sanalah kami selalu diingatkan untuk menurunkan ego dan selalu menjaga kerukunan persaudaraan.

Lewat kisah ini, aku belajar—dan mungkin kita semua perlu diingatkan—bahwa baik di dalam keluarga, komunitas, maupun lingkungan apa pun, hal-hal kecil seperti pembagian tugas, materi, atau perbedaan pendapat sering kali memicu gesekan. Namun, tidak ada ego pribadi yang layak ditukar dengan sebuah kebersamaan.

Kerukunan itulah prasasti yang sesungguhnya; sebuah warisan tak ternilai yang harus selalu kita jaga di mana pun kita berada. Sebab, mengalah demi kebaikan bersama bukan berarti kita kalah, melainkan cara kita menghargai ikatan yang ada. Agar saat kita melangkah jauh nanti, kita selalu tahu cara untuk kembali duduk bersama, menurunkan ego, dan saling merangkul sebagai sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ego Sukuisme? Ah, Menjadi Perpaduan Itu Jauh Lebih Seru!

  Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak sih kalian ngerasa kalau gesekan atau ego terbesar itu justru sering muncul dari dalam rumah ki...