Paritisipasi Menuju
Kolaborasi
Ensiklik bapa Suci Paus Fransiskus
yang berjudul “Laudato Si” menjadi salah satu dokumen yang menjawab perhatian
global saat ini. Di era modern ini, jeritan alam semesta akibat kerusakan yang
telah ditimpakan manusia semakin menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hal ini menjadi
luka kita bersama dan sangat berdampak pada keberlangsungan hidup manusia serta
ciptaan lainnya terutama kaum miskin yang sering terabaikan. Melalui ensiklik
Laudato Si, Paus Fransiskus mengajak seluruh kaum beriman agar menjadi saksi
pengharapan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, komunitas kristiani,
gereja dan masyarakat.

Komunitas Religius menjadi salah
satu saksi harapan bagi gereja dan masyarakat. Komunitas religius memiliki
tanggung jawab moral untuk menjaga lingkungan hidup sebagai bentuk rasa syukur
pada Sang Pencipta. Banyak upaya yang sudah dilakukan untuk menjaga kelestarian
alam sekitar biara. Pertama, audit sampah. Setiap anggota komunitas
mengevaluasi sampah yang dihasilkan. Melalui audit ini, diharapkan agar setiap
anggota komunitas berusaha mengurangi sampah yang dihasilkan. Seperti contoh
membawa tas saat berbelanja dan membawa botol minum saat berpergian. Upaya ini
dapat mengurangi penggunakan plastik dan botol atau cup minuman. Kedua,
penggunaan barang bekas. Barang yang masih layak digunakan kembali tidak
langsung dibuang tetapi dimanfaatkan. Seperti plastik yang digunakan saat
berbelanja ke pasar, dicuci dan dikeringkan sehingga bisa dipakai kembali untuk
menyimpan ikan dan sayuran di kulkas. Ketiga, daur ulang bahan organik. Sampah
dapur seperti sisa makanan dapat diberikan kepada anjing, ikan dan hewan ternak
lainnya. Sisa kulit buah dapat diolah menjadi lindih untuk menyuburkan tanaman
dan eco enzim yang memiliki seribu manfaat. Keempat, penghematan sumber daya.
Menumbuhkan rasa solidaritas bagi generasi yang mendatang. Hal ini dilakukan
dengan menggunakan listrik seperlunya, jika cahaya matahari cukup untuk
menerangi ruangan maka lampu tidak perlu dinyalakan. Juga penggunaan air yang
secukupnya untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Upaya – upaya ini sangat berpengaruh
bagi kelestarian alam semesta. Partisispasi sekecil apapun sangat bermanfaat.Mungkin
usaha yang kita lakukan tidak secara langsung memperlihatkan hasil yang besar tetapi
usaha itu tidak menambah kerusakan bumi. Banyak biara biara yang sudah
merealisasikan upaya upaya yang baik bagi kelestarian alam. Bahkan banyak
biarawan biarawati menjadi tokoh ekologi di lingkungan gereja maupun
masyarakat. Sebagai orang beriman, hal ini patut kita syukuri. Sebagai gereja
kita sudah berupaya menunjukkan partisipasi kita dalam melestarikan alam
semesta. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan ada banyak tantangan yang
dihadapi dalam menjaga lingkungan di biara. Pertama, kebutuhan manusia yang
semakin besar. Seiring dengan aktivitas harian, konsumsi barang dan produksi
terus meningkat, menyulitkan upaya pengelolaan limbah yang efektif. Kebutuhan
anggota komunitas seperti bahan makanan, peralatan mandi, perabotan rumah
tangga dll, hampir seluruhnya menghasilkan limbah seperti makanan berbungkus
plastik dan peralatan mandi yang berbotol. Peningkatan produktivitas di dunia
ini seakan akan menjadi kebutuhan utama manusia sehingga budaya hedonisme
semakin meningkat. Tantangan kedua, kurangnya konsistensi secara individu
maupun komunal. Terkadang semangat untuk menjaga lingkungan hanya muncul
diawal, tetapi sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu,
diharapkan agar setiap anggota komunitas biara memiliki kesadaran dan keterlibatan
aktif, setiap anggota komunitas dapat berkontribusi dalam membangun biara yang
ramah lingkungan. Ini bukan hanya tugas mereka yang diberi tanggung jawab di
bidang ekologi oleh kongregasi melainkan tugas setiap anggota komunitas.
Partisipasi sekecil apapun memiliki peran yang sangat penting. Ketika semakin
banyak individu terlibat dalam upaya menjaga lingkungan, semangat ini akan dan
menciptakan gerakan bersama. Dari sinilah partisipasi akan menuju kekolaborasi.
Kolaborasi dalam menjaga lingkungan hidup tidak dapat teraktualisasikan jika
tanpa partisipasi setiap individu. Kolaborasi ini bukan hanya mengatasi
kerusakan lingkungan hidup tetapi juga mempererat persaudaraan antar anggota
komunitas. Dengan semangat partisipasi dan kolaborasi, komunitas religius dapat
menjadi contoh nyata dalam pelestarian lingkungan. Dengan berkontribusi dalam
hal hal sederhana , kita turut serta dalam membangun ekosistem yang lebih sehat
dan harmonis. Kolaborasi yang terbentuk dari partisipasi setiap individu akan
membawa perubahan yang lebih besar tidak hanya bagi biara tetapi juga bagi alam
semesta. Mari kita mulai lagi, karena sampai saat ini kita belum berbuat apa
apa.
Salam Laudato Si.